Catatan Ide

Masukan dari Juni 2007

Ternak Kelinci

22 Juni 2007 · 209 Tanggapan

Boleh dibilang ini adalah salah satu mahluk terlucu yang diciptakan Tuhan, jinak dan bulunya halus. “Kelinci” namanya. Siapa yang tak kenal kelinci ? (kenalan dulu gih….) yang memiliki banyak manfaat seperti dagingnya Yummi…!!! uenak buanget ma nyos deh pokok nya… , menurut penelitian para ahli selain dagingnya empuk juga rendah kolesterol, bisa digoreng, dibakar, dan yang lagi trend tentunya “sate kelinci”.

Asal mula kelinci diperkirakan berasal dari daerah Amerika Selatan, dibawa ke Indonesia pada zaman Kolonial Belanda. Ada banyak macam type kelinci, diantaranya Rex America, Dwarf, English Spot, Dutch, jersey wolley, harley queen. Ada 72 jenis kelinci hias dan potong, sekitar 50 jenis di antaranya terdapat di Indonesia (Republika.co.id) .

Aku memelihara kelinci sejak SD, menyiapkan kandang, mencari bibit dan rutin menyabit rumput untuk makan kelinci, biasanya di pematang kebun, selokan, atau memungut potongan-potongan daun kol yang bisa diambil sewaktu ada yang panen. khusus untuk ternak ini rumput yg harus dicari dipilih agar tidak memnyebabkan kelinci mati, biasa nya rumput-rumput halus, muda dan mudah untuk dicerna, hindari dari perstisida, karena bisa menyebabkan kelinci keracunan.

Teman seperjuangan pencaari rumput adalah kakak ku sendiri (Diat) dan sobat ku dari kecil namanya Aek (mirip klub sepakbola dari Yunani). Pengalaman yang paling berkesan waktu itu lagi malas mencari rumput dipaksa oleh ibu supaya tetap mencarinya, dengan hati dongkol aku berangkat juga walaupun cuaca waktu itu hujann… brr… kedinginan deh. Seusia sekarang, baru terpikir… hm.. manfaat mememlihara kelinci, melatih kita untuk bertanggung jawab, sebab harus konsisten memelihara ternak. Walhasil sampai sekarang aku begitu interest jika melihat rumput yg hijau dimanapun berada, bawaan nya pengen nyabit rumput :) Duasar………

Makin kesini bosan juga, akhirnya karena tidak dirawat kelincinya mati, dipotong dan dijual. Terakhir sewaktu pulang ke Pangalengan kakak, dan Ua lagi serius menggeluti ternak ini, membentuk suatu kelompok peternak yang nantinya akan di danai oleh PT. Star Energy sebagai donatur.

Kategori: Catatan Kecil · Ternak

Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah

15 Juni 2007 · 18 Tanggapan

Setiap daerah tentu memiliki makanan khas daerah tersebut, Majalaya punya borondong, Ciwidey dengan Kalua Jeruk nya (manisan kulit jeruk Bali), tak terkecuali Pangalengan. Orang tentu telah mengenal permen susu atau sering disebut caramel hasil olahan para pengrajin di Pangelangan, selain itu teradapat juga kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, noga susu dll.

Semua itu tidak terlepas dari adanya peteranakan sapi perah di Pangalengan, peteranakan sapi di sana mempunyai sejarah yang cukup panjang, dari penuturan Haryoto Kunto (Kuncen Bandung), ada sejumlah pelarian perang Boer di Afrika Selatan yang datang ke daerah Bandung pada zaman Kolonial Belanda, mereka mendirikan usaha diberbagai sektor, diantaranya mendirikan Dennish Bank (sekaranng Bank Jabar), membuka perkebunan, dan peteranakan, salah satu nya di Pangalengan (Baca : Balai Agung di Kota Bandung-Haryoto Kunto).

Peternakan sapi didirikan untuk kepentingan gizi orang-orang Belanda. Orang Belanda memang suka minum susu. Saat itu peternakan sapi perah hanya dimiliki oleh orang Belanda. Para pribumi hanyalah pekerja. Di Pangalengan terdapat beberapa perusahaan besar, seperti De Friesche Terp (B. Vrijburg), Almanak, Van der Els, dan Big Man. Sedangkan di Lembang ada Baroe Adjak. Photo di samping diambil dari situs Kitlv.nl, merupakan photo kantor peternakan De Friesche Terp di Pangalengan sekitar tahun 1930, deskripsi nya adalah “ De Friesche Terp, melkveeboerderij te Pengalengan, opgericht door veearts B. Vrijburg“, hmm… ada yang tahu artinya :) , coba perhatikan benderanya, mirip dengan gambar yang terdapat pada kaleng susu bendera yang ada di pasaran sekarang ini. Jangan-jangan perusahan Fresland Flag yang ada di Belanda merupakan kelanjutan De Friesche Terp, boleh minta komentar kepada siapa saja yang tahu banyak tentang perusahaan ini.

Setelah Jepang masuk, perusahaan itu dengan sendirinya tidak beroperasi lagi. Sejumlah ternak sapi kemudian dipelihara oleh warga. Sebagian perusahan peteranakan itu di nasioanalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1959 dengan keluarnya PP 12/1959 tentang Penentuan Perusahaan Peternakan Milik Belanda Yang Dikenal Dengan Nasionalisasi.

Koperasi susu di Pangalengan adalah yang tertua di Jawa Barat. Tahun 1949 para peternak mendirikan koperasi bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip). Namun pada tahun 1961, Gappsip bubar karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Pada tahun 1969, dengan inisiatif pemerintah dan masyarakat, terbentuklah sebuah koperasi yang sekarang dikenal dengan nama KPBS (kompas.com) .

Para peteranak menjadi anggota dari koperasi tersebut, menjual susu yang mereka produksi ke koperasi untuk kemudian dijual kembali oleh KPBS ke pabrik pengolahan susu (perusahan Susu yang saya ketahui salah satu nya adalah PT. Ultra Jaya). Uang hasil penjualan susu tersebut tidak diberikan langsung setiap hari kepada peternak, tetapai diakumulasi yang kemudaian diberikan setiap awal bulan (semacan gajian). Bila ada yang berkesampatan ke Pangalengan setiap pukul 6:00 atau 14:00 akan terlihat aktivitas penyetoran susu hasil perahan yang dipikul oleh peternak menggunakan tong penampung susu (sering kali disebut Bess) diangkut ke tempat-tempat penampungan susu di seluruh area kerja KPBS (Komda).

Selain dijual, ada sebagian susu yang dijadikan makanan olahan, seperti Permen Susu, Kerupuk Susu, Tahu Susu dan Dodol susu, ”All about Milk, daerah pemasarannya sudah memasuki kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Jangan lupa! sekembali dari Pangalengan mapirlah di kios oleh-oleh pengganan susu ini yang bisa ditemukan di sepanjang jalan dari Pangalengan menuju Banjaran.

Tulisan ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel Harian Pikiran Rakyat berjudul Siap-Siap Keju Pangalengan Datang, tentang sebuah ide untuk mengembangkan pembuatan keju dari susu sapi perah lokal Pangalengan. Ide tersebut baru sebuah wacana dengan tujuan untuk memperoleh nilai tambah bagi usaha produksi sapi perah. Terakhir saya ke Pangalengan, belum ada realisasi dari rencana tersebut. Mungkin baru diadakan persiapan matang, yang membutuhkan kerjasama yang solid antara Pemerintah daerah, KPBS, peternak dan Dinas Peterankan Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan terealisasi nya usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan produknya sendiri dapat dijadikan komoditas unggulan Pangalengan. Why Not, Semua itu perlu dicoba.

Pinggiran Jakarta Juni 2007

Kategori: Catatan Kecil · Pangalengan · Ternak

Andai Junghuhn Tahu Nasib Kina Indonesia…

13 Juni 2007 · 6 Tanggapan

TAMPAK kurang terawat dan banyak sampah, itulah kondisi yang terlihat saat memasuki rimbunnya halaman Taman Junghuhn di Jayagiri Kec. Lembang Kab. Bandung. Di bawah sebuah tugu–sebenarnya nisan–, terbaring jasad Franz Wilhelm Junghuhn, yang dikenal sebagai tokoh usaha penanaman dan industri kina di Indonesia (dahulu Hindia Belanda). Hingga kini kina masih menjadi obat ampuh untuk penyembuhan penyakit malaria.

Franz W. Junghuhn merupakan perintis penanaman kina di Indonesia. Ia merintisnya di sejumlah daerah pegunungan di Wilayah Priangan Jabar mulai sekira tahun 1830. Belakangan, usaha yang dirintisnya itu mampu membawa harum nama daerah Priangan, dengan sempat menjadi pemasok utama kina dunia sampai menjelang Perang Dunia II, sebelum akhirnya usaha kina Jabar (baca nasional) kemudian kini jauh mengalami kemunduran. (lagi…)

Kategori: Artikel · Pangalengan

Situ Cileunca, Danau Buatan Zaman Belanda

12 Juni 2007 · 20 Tanggapan

Long weekend yang agak panjang, ceritanya pulang kampung ngajak keluarga. Selagi beli pulsa untuk komunikasi degan kerabat kerja yang masih ngator, timbul ide untuk ngajak istri dan anak ku tuk melihat-lihat Situ Cileunca.

Kami naik motor pinjaman berlawanan arah dengan jarak terdekat yang dapat ditempuh ke danau itu, selain jalan2x..
aku ingin mengenalkan daerah2x yang belum diketahui istri ku sebelumnya. (lagi…)

Kategori: Catatan Kecil · Pangalengan

SD Malabar II, Bangunan Tua Warisan Bosscha Wonosobo

11 Juni 2007 · 6 Tanggapan

BANGUNAN tua itu masih berdiri di tengah perbukitan yang dipenuhi tanaman teh milik Perkebunan Teh Gunung Malabar, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung. Sebuah bangunan yang berbentuk panggung, terbuat dari bilik bambu kusam, berlantaikan kayu jati, dan beratapkan seng. Meski sudah tua, bangunan itu tetap bisa berfungsi sebagai tempat belajar sejumlah murid sekolah dasar di sana. Ya, bangunan tua itu tak lain SD Negeri Malabar II. (lagi…)

Kategori: Artikel · Pangalengan