Catatan Ide

Situ Cileunca, Danau Buatan Zaman Belanda

12 Juni 2007 · & Komentar

Long weekend yang agak panjang, ceritanya pulang kampung ngajak keluarga. Selagi beli pulsa untuk komunikasi degan kerabat kerja yang masih ngator, timbul ide untuk ngajak istri dan anak ku tuk melihat-lihat Situ Cileunca.

Kami naik motor pinjaman berlawanan arah dengan jarak terdekat yang dapat ditempuh ke danau itu, selain jalan2x..
aku ingin mengenalkan daerah2x yang belum diketahui istri ku sebelumnya.

Memasuki perkebunan teh Malabar di kaki Gunung Nini, di kejauhan mulai kelihatan terhampar kilauan cahaya yang
dipantulkan Situ Cileunca… tak terlukisakan begitu excited nya pemandangan itu… sangat jauh berbeda jauh dengan pemandangan kesemerawutan tempat aktivitas sehari-hari di Jakarta nan macet.

Sambil terus melaju aku cerita bahwa danau itu dibangun sejak Zaman Belanda. Dulu situ cileunca merupakan kawasan milik pribadi seorang Belanda bernama “Kuhlan”. Pembangunan situ itu dilaksanakan selama 7 tahun (1919-1926)Pembangunan situ cileunca sekitar tahun 1929
menggerakan turbin pembangkit listrik plengan yang merupakan salah satu sumber listrik kota Bandung zaman kolonial,
selain itu debit air nya diuganakan sebagai cadangan sumber air bersih kota Bandung kala itu. Berkapasitas 9,89 Juta M3 Air. Untuk mencapai kapasitisa setinggi itu Bendungan Pulo dipertinggi pada tahun 1940 (Baca “Sejarah PLN Jawa Barat).

Setelah melewati kampung-kampung kecil… jalan yang naik turun lembah.. berkelok kelok.. semakin terlihat jelas luas nya danau, Situ Cileunca beCileunca dilihat dari Photo Satelit rada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Genangan air seluas 180 hektare itu diapit dua desa, yakni Warnasari dan Pulosari. Sebenarnya, Situ Cileunca itu ada dua buah. Cileunca Satu memiliki luas 210 hektare dan ini, Situ Cileunca Dua, memiliki luas 180 hektare,” jika dilihat dari Photo satelit imagery milik Google Earth, bentuk nya emang tidak karuan… merupakan titik temu beberapa mata air yang diblok oleh sebuah bendungan yang sekarang diberi nama Dam Pulo.

Motor terus berjalan, kami melewati perkebunan teh Pasir malang, tempat dimana bapak ku dilahirkan… ditempat itu sewaktu masih bocah… aku bermain-main di sungai cilaki .. sementara bapak sibuk mengurusi kolam ikan peninggalan kakek, karena keterbatasan waktu, kami melawati saja tempat itu.. Insaya Allah suatu saat klo ada waktu aku mau menyempatkan diri melihat tanah leluhurku itu.

Begitu banyaknya peninggalan zaman kolonial… istri ku berkomentar “kenapa semua ini ngak dikembangkan”, sejenak kurenungkan komentar itu.. ada benarnya juga… betapa tidak kreatifnya kita.. sehingga ada orang mengatakan.. apakah kalian menyesal setelah kemerdakaan yang dengan susah payah diraih.. melihat kemdandekan kreatifitas negeri ini.. Whatever (Teuing Ah..).

Setelah melewati beberapa perkebunan teh rakyat, jembatan jembatan kecil melintasi danau dengan udara yang sejuk, sampai juga kami ke gerbang utama wisata “Situ Cileunca”, tidak banyak pengunjung waktu itu … mungkin karena jam sudah mepet menunju waktu sholah jum’at. Ada satu dua perahu yang tertambat di pinggir danau, kami lihat hanya ada satu perahu yang sedang beroperasi.

Cileunca.. danau penuh mitos.. dari dulu sudah beredar mitos penguasa danau itu.. nama nya Abah Suta… Konon katanya dia pernah bermusuhan dengan orang Garut… ada kepercayaan orang Garut dan keturunan jangan sekali-kali menyebrangi danau itu.. takut nantinya Mbah Suta marah… perahunya bakal ditenggelamkan (Padahal… kakek dari ibu orang garut juga.. so aku juga keturunan orang garut atuh… he..he..he…).

Kami sampai di ujung danau, terbentang Dam Pulo yang memberi kesan kokoh. Kami berhenti sesaat untuk melepas lelah, tak lupa photo2x seperti hal nya kebanyakan orang yang sedang piknik (ideal nya plus makan ditempat terbuka kail yee..). Di ujung danau itu terlihat rute perjalan yang talah kami lewati.. hmm.. lumayan jauh juga…

Pangalengan 18 Mei 2007

Kategori: Catatan Kecil · Pangalengan

20 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar