Catatan Ide

Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah

15 Juni 2007 · & Komentar

Setiap daerah tentu memiliki makanan khas daerah tersebut, Majalaya punya borondong, Ciwidey dengan Kalua Jeruk nya (manisan kulit jeruk Bali), tak terkecuali Pangalengan. Orang tentu telah mengenal permen susu atau sering disebut caramel hasil olahan para pengrajin di Pangelangan, selain itu teradapat juga kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, noga susu dll.

Semua itu tidak terlepas dari adanya peteranakan sapi perah di Pangalengan, peteranakan sapi di sana mempunyai sejarah yang cukup panjang, dari penuturan Haryoto Kunto (Kuncen Bandung), ada sejumlah pelarian perang Boer di Afrika Selatan yang datang ke daerah Bandung pada zaman Kolonial Belanda, mereka mendirikan usaha diberbagai sektor, diantaranya mendirikan Dennish Bank (sekaranng Bank Jabar), membuka perkebunan, dan peteranakan, salah satu nya di Pangalengan (Baca : Balai Agung di Kota Bandung-Haryoto Kunto).

Peternakan sapi didirikan untuk kepentingan gizi orang-orang Belanda. Orang Belanda memang suka minum susu. Saat itu peternakan sapi perah hanya dimiliki oleh orang Belanda. Para pribumi hanyalah pekerja. Di Pangalengan terdapat beberapa perusahaan besar, seperti De Friesche Terp (B. Vrijburg), Almanak, Van der Els, dan Big Man. Sedangkan di Lembang ada Baroe Adjak. Photo di samping diambil dari situs Kitlv.nl, merupakan photo kantor peternakan De Friesche Terp di Pangalengan sekitar tahun 1930, deskripsi nya adalah “ De Friesche Terp, melkveeboerderij te Pengalengan, opgericht door veearts B. Vrijburg“, hmm… ada yang tahu artinya :) , coba perhatikan benderanya, mirip dengan gambar yang terdapat pada kaleng susu bendera yang ada di pasaran sekarang ini. Jangan-jangan perusahan Fresland Flag yang ada di Belanda merupakan kelanjutan De Friesche Terp, boleh minta komentar kepada siapa saja yang tahu banyak tentang perusahaan ini.

Setelah Jepang masuk, perusahaan itu dengan sendirinya tidak beroperasi lagi. Sejumlah ternak sapi kemudian dipelihara oleh warga. Sebagian perusahan peteranakan itu di nasioanalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1959 dengan keluarnya PP 12/1959 tentang Penentuan Perusahaan Peternakan Milik Belanda Yang Dikenal Dengan Nasionalisasi.

Koperasi susu di Pangalengan adalah yang tertua di Jawa Barat. Tahun 1949 para peternak mendirikan koperasi bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip). Namun pada tahun 1961, Gappsip bubar karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Pada tahun 1969, dengan inisiatif pemerintah dan masyarakat, terbentuklah sebuah koperasi yang sekarang dikenal dengan nama KPBS (kompas.com) .

Para peteranak menjadi anggota dari koperasi tersebut, menjual susu yang mereka produksi ke koperasi untuk kemudian dijual kembali oleh KPBS ke pabrik pengolahan susu (perusahan Susu yang saya ketahui salah satu nya adalah PT. Ultra Jaya). Uang hasil penjualan susu tersebut tidak diberikan langsung setiap hari kepada peternak, tetapai diakumulasi yang kemudaian diberikan setiap awal bulan (semacan gajian). Bila ada yang berkesampatan ke Pangalengan setiap pukul 6:00 atau 14:00 akan terlihat aktivitas penyetoran susu hasil perahan yang dipikul oleh peternak menggunakan tong penampung susu (sering kali disebut Bess) diangkut ke tempat-tempat penampungan susu di seluruh area kerja KPBS (Komda).

Selain dijual, ada sebagian susu yang dijadikan makanan olahan, seperti Permen Susu, Kerupuk Susu, Tahu Susu dan Dodol susu, ”All about Milk, daerah pemasarannya sudah memasuki kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Jangan lupa! sekembali dari Pangalengan mapirlah di kios oleh-oleh pengganan susu ini yang bisa ditemukan di sepanjang jalan dari Pangalengan menuju Banjaran.

Tulisan ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel Harian Pikiran Rakyat berjudul Siap-Siap Keju Pangalengan Datang, tentang sebuah ide untuk mengembangkan pembuatan keju dari susu sapi perah lokal Pangalengan. Ide tersebut baru sebuah wacana dengan tujuan untuk memperoleh nilai tambah bagi usaha produksi sapi perah. Terakhir saya ke Pangalengan, belum ada realisasi dari rencana tersebut. Mungkin baru diadakan persiapan matang, yang membutuhkan kerjasama yang solid antara Pemerintah daerah, KPBS, peternak dan Dinas Peterankan Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan terealisasi nya usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan produknya sendiri dapat dijadikan komoditas unggulan Pangalengan. Why Not, Semua itu perlu dicoba.

Pinggiran Jakarta Juni 2007

Kategori: Catatan Kecil · Pangalengan · Ternak

18 tanggapan so far ↓

  • bela // 29 Juni 2007 pada 6:35 am | Balas

    waduh tulisannya menarik bgt, kalo boleh, bisakah tulisan anda saya tampilkan di website kami di http://www.disnak.jabarprov.go.id………….tentunya dengan mencantumkan sumber tulisannya. Seandainya diperkenankan, saya mengucapkan banyak terima kasih

  • omdien // 2 Juli 2007 pada 10:46 am | Balas

    Dengan senang hati Mbak Bela, mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf bila redaksi nya ada yang kurang mengena, ma’lum penulis pemula.

  • Friesland Flag, Terjawab sudah « Catatan Ide // 4 September 2007 pada 7:21 am | Balas

    [...] 4 September 2007 Posted by omdien in Catatan Kecil. trackback Saya pernah menuliskan sejarah peternakan sapi di Pangalengan, ada pertanyaan yang menggelitik begitu lihat photo kantor De Friesche Terp, dimana dihalaman rumah [...]

  • Johan Gerrit van Ham, Perintis peternakan sapi perah Pangalengan « Catatan Ide // 26 November 2007 pada 2:01 am | Balas

    [...] sebagai salah satu bahannya dan usaha pemotongan hewan (Slagerij). Dari sinilah cikal bakal adanya aneka olahan susu sapi perah yang marak saat ini di Pangalengan seperti permen susu, dodol susu, tahu susu, kerupuk susu dan [...]

  • Rudy Hidayat // 6 Maret 2008 pada 8:22 am | Balas

    bagus artikelnya, kalau boleh tahu..bagaimana caranya supaya susu tetap fresh sebelum dikirim ke KPBS, apakah dgn tong/bess khusus atau sebelumnya di panaskan dulu…, mohon informasi. Terimakasih, semoga tambah maju ya…

  • omdien // 6 Maret 2008 pada 8:37 am | Balas

    @Rudy Hidayat
    Thanks atas comment nya, tong atau bess hanya untuk menyimpan saja, tidak untuk mengawetkan, biasanya bila untuk dikonsumsi langsung, susu yang dipanasakan bisa tahan sampai 2 hari (jangan terlalu panas, bisa mengakibatkan susu pecah). Tapi jika untuk dikirim ke tempat penampungan tidak perlu diawetkan, sebab hari itu diperah, hari itu juga dikirim.
    Sayang nya, ada trik-trik yang tidak seharusnya dilakukan oleh peternak untuk meningkatkan kuantitas Susu, entah itu dicampur air atau bahan-bahan tertentu.
    Itulah mungkin kenapa kualitas susu negeri ini jauh dibawah negara pengimport susu.

  • sri rohaetin // 12 Maret 2008 pada 5:47 am | Balas

    kami ingin mengunjungi koperasi susu tsb untuk melihat langsung proses dari pembuatan sampai kepada pengiriman.kepada siapa kami harus konfirmasi

  • omdien // 13 Maret 2008 pada 7:09 am | Balas

    @Sri Rohaeti
    Anda bisa menghubungi Humas KPBS
    Sdr. Andri Noviadi di kantor KPBS
    Jl. Raya Pangalengan No. 340
    Pangalengan Kab. Bandung

  • erikagustian // 18 Maret 2008 pada 4:53 pm | Balas

    selamat siang mba….saya ingin mengenal lebih jauh koperasi KPBS kebetulan saya kerja di Bank sekaligus saya ingin mengetahui seluk beluk dan sistem di antara KPBS dan petani, dengan harapan kami dari pihak Bank bisa menyediakan dan bekerjasama dalam aspek financial baik ke koperasi maupun ke petaninya, terimakasih.

  • Agus Ramada Setiadi // 29 Maret 2008 pada 2:18 pm | Balas

    Mohon ijin untuk posting di Blog Domba Garut.

    Hatur Nuhun.

    Agus Ramada S

  • dhita // 1 Juni 2008 pada 7:53 am | Balas

    Yth Bapak
    Di daerah saya kaliurang yogyakarta ada sekumpulan masyarakat yang dibina oleh sebuah perusahaan pengolah susu untuk menyuplai susu sapi ke perusahaan tsb, sementara ini pemdapatan mereka hanya dari setoran susu tsb, ternyata setelah saya ngobrol mereka punya olahan lain yang mereka sebut tahu susu, yaitu susu perahan pertama dari sapi yg baru melahirkan, susu tsb mengental spt tahu, menurut mereka tdk laku dijual, yg sy tanyakan apakah tahu susu tsb adalah bahan baku Susu Kolostrum IgG-Plus mlm yg sedang populer skrg, bagaimana nilai ekonomisnya, semoga bisa menjadi pemasukan alternatif warga kaliurang tsb.
    trimakasih

  • anis // 1 Juli 2008 pada 7:43 pm | Balas

    mohon info apa ada yang bisa bantu resep dan cara pengolahan permen susu dan karamel susu? kami pelihara sapi perah ingin coba buat produk itu. makasih.

  • bom2 // 20 Oktober 2008 pada 3:20 pm | Balas

    mau tanya…
    gbmn membuat susu tahu….

    tanpa melihat kekentalan susu, menurut sumber yg da, hny sapi yang telah melahirkan yg dpt d buat susu tahu….

    terus bgmn dgn yg susu biasah….
    thanks

  • metty // 3 Desember 2008 pada 8:53 am | Balas

    Omdien, mau tanya neh.Tempat pengolahan susu Pangalengan di tempat Bapak menerima mahasiswa PKL untuk bulan Februari 2009 tidak? Kalau ia saya bisa menghubungi kemana,dan prosedurnya bagaimana? Terimakasih banyak! :)

  • mufti // 29 Mei 2009 pada 4:43 am | Balas

    wow pangalengan tempat yg sng bagus dimana pertanian dan perternakanya sgt membatu devisa wilayah itu,mkn lebih membantu lg bila hasil dari susu dpt di kenalkan ke berbagai negara.saya sendiri sedang mencoba berternak sapi perah di situ,smg teman2 ikut membantu

  • mufti // 29 Mei 2009 pada 7:29 am | Balas

    dimana tempat pembelian sapi yg bagus?
    sapi dari daerah mana yg bgs buat pangalengan?
    mhn petunjuk dr ttm

  • Anodize // 13 Juli 2009 pada 7:24 am | Balas

    Infonya sangat menarik dan membantu.

  • memey // 18 Juli 2009 pada 2:55 am | Balas

    q mw nanya dodol susu tuch proses pembuatanya tuch pakai susu trz dcmpr apa aja??trz dmna tmpt pnjualan dodol susunya??

Tinggalkan sebuah Komentar