Bicara tentang dokumentasi, Belanda adalah jagonya. Betapa tidak, semua hal-hal sejarah, jurnal, artefak atau interview zaman baheula semua dikoleksi untuk di dokumentasikan baik dalam bentuk script, photo,video atau barang-barang peninggalan sejarah.
Kejadian heboh baru-baru ini dengan ditemukannya clip Lagu Indonesia raya yang di klaim Roy Suryo sebagai penemuan team nya, lirik terlengkap dan Arsip Nasional belum memilikinya, di sebuah server Leiden Belanda menunjukan bahwa hal-hal yang berbau sejarah sekalipun tidak berhubungan langsung dengan negaranya, mereka koleksi juga. Konon katanya untuk mendapat gelar S3 Sastra Sunda, mahasiswa UNPAD harus rela terbang ke Negeri Kincir Angin itu karena arsip-arsip kesundaan kuno telah dianggkut Penjajah Belanda ke negaranya pada zaman kolonial yang tersimpan rapi di Universitas Leiden. Menurut Mamat Sasmita dalam tulisan nya di Koran Kompas Jabar Kamis tanggal 6 April 2006, banyak kolektor Belanda yang mengaabadikan script-script sunda seperti Snouck Hurgronje, KF Holle, CM Pleyte, JLA Brandes, Th Pigeaud dan lainnya. Menurut nya Snouck Hurgronje telah “menyelamatkan” naskah-naskah Sunda yang begitu banyak untuk disimpan di negri Belanda, karena apabila tetap berada di yang empunya bisa jadi tidak pernah dibaca untuk dipelajari, jangan-jangan malah akan dijadikan tutungkusan, dijadikan benda keramat. Tapi, alangkah jauhnya kalau ingin melihat atau meneliti naskah Sunda oleh orang Sunda dari Tatar Sunda.





