Catatan Ide

F.W. Junghuhn Bapak Kina Indonesia

23 Agustus 2007 · 1 Komentar

Di dekat Pasar Lembang di utara Bandung ada gang kecil yang bernama Junghuhn. Di dalam gang ini terdapat sebuah taman kecil yang dikenal dengan nama Taman Junghuhn. Di taman ini pula terdapat monumen sederhana yang mengingatkan pada Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Siapa dia?

Bagi orang Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Bandung, tentu tak asing dengan nama Junghuhn. Seorang dokter dan peneliti alam kelahiran Mansfeld-Prusia pada tahun 1820 dan meninggal di Lembang pada 24 April 1864. Pria itulah yang berjasa besar melakukan penelitian tentang kina di Indonesia sehingga bisa disebut sebagai Bapak Kina.

Junghuhn berasal dari keluarga dokter di Mansfeld yang dulu termasuk wilayah Prusia. Di kota Halle dan Berlin, Junghuhn belajar ilmu kedokteran dan melakukan penelitian di bidang botanika. Ia sempat masuk dinas militer Prusia sebagai perwira kesehatan. Namun Desember 1831 ia ditangkap dan dibawa ke penjara militer di Koblenz, dan dijatuhi hukuman penjara 10 tahun. Baru 20 bulan di penjara, ia berhasil melarikan diri ke Belgia. Dari sana ia menuju ke Prancis dan bergabung dengan Legiun Tentara Bayaran.

. Suatu waktu di Paris ia berkenalan dengan ahli botanika Belanda bernama Christian Hendrik Persoon yang menganjurkannya untuk pergi ke Hindia-Belanda. Sebagai persiapan, ia pergi ke Belanda untuk belajar dan meraih gelar dokter di Leiden. Seusai kuliah, 12 Januari 1835 Junghuhn diangkat menjadi dokter militer tingkat III. Keberangkatannya ke Hindia Belanda menandai petualangan hidupnya.

Tanggal 12 Oktober 1835 Franz Wilhelm Junghuhn mendarat di Batavia. Di kota ini ia bekerja sebagai perwira kesehatan pada pemerintahan kolonial Belanda. Namun tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya, yaitu riset dan pendataan geografi dan geologi Indonesia. Junghuhn pun dibebas-tugaskan sebagai dokter, tahun 1836. Dan mulailah ia melakukan penelitian di Jawa.

Antara 1840 dan 1842 ia melakukan penelitian di Tanah Batak di Sumatra Utara dan menulis monografi pertama tentang sejarah Tanah Batak. Tahun 1848 ia melanjutkan risetnya di Jawa. Ia merupakan orang pertama yang secara sistematis menjelajahi Pulau Jawa. Penelitiannya dilakukan dalam keadaan serba sulit, penuh pengorbanan dan disiplin.

Antara 1848 dan 1851 ia harus melanjutkan pekerjaannya di Belanda, karena sakit. Disana ia menulis buku yang terdiri atas tiga jilid berjudul: Jawa, bentuk, flora dan susunan tanahnya. Siapapun yang membaca bukunya akan kagum, karena Junghuhn tanpa bantuan dari suatu lembaga atau universitas, mampu melakukan penelitian yang rinci seperti itu. Hasil karyanya yang lain, peta pertama topografi pulau Jawa. Suatu karya besar di bidang kartografi.

Pujian pun berdatangan ke arahnya. Diantaranya dari rekannya Dr. Karl Helbig dari Hildesheim, yang menyebutnya sebagai peneliti asal Jerman terbesar di bumi Melayu. Ia juga menjulukinya sebagai ‘Humboldt’ dari Jawa.

Setelah menikah Johanna dengan Johanna Frederica dari Leiden tahun 1850, Junghuhn menjadi warga negara Belanda. Iapun menulis buku-bukunya dalam bahasa Belanda. Sementara rekannya dari Jerman Karl Hasskarl menerjemahkan buku-bukunya ke dalam bahasa Jerman.

Setelah kembali ke Jerman Hasskarl mendapat tugas berbahaya dari pemerintah Belanda yang sebenarnya di luar legalitas. Ia diperintahkan membawa benih dan bibit pohon kina dari Peru ke Jawa. Peru yang ketika itu memiliki monopoli atas pohon kina melarang ekspor kulit pohon kina. Sejak lama kulit pohon kina dipakai sebagai bahan dasar untuk obat malaria.

Semakin banyak orang Eropa bekerja di daerah tropis, bubuk putih dari kulit pohon ini, yang disebut kinine, semakin laku. Hasskarl berhasil membawa benih dan bibit pohon kina dalam 121 peti ke Jawa. Namun hanya 70 tumbuhan selamat.

Pohon itupun ditanam di Cibodas. Namun karena kesehatannya tidak memungkinkan memikul tugas berat iapun kembali ke Eropa. Tugas itu beralih pada Junghuhn yang kembali ke Jawa tahun 1855. Ia ditugaskan sebagai inspektur untuk membudidayakan pohon kina. Di sekitar Lembang ia membangun perkebunan kina.

Bersama isteri dan puteranya, Junghuhn memulai bagian kedua petualangan hidupnya di Lembang. Tetapi rupanya nasibnya kurang baik. Kegagalan, salah urus, dan kesehaan yang mulai mundur ditambah sikap iri rekan-rekannya, mewarnai tahun-tahun terakhir hidupnya hingga ia meninggal karena penyakit hepatitis.

Seorang dokter asal Swiss, E. Haffter 1898 tiba di Lembang, 34 tahun setelah meninggalnya Junghuhn, melaporkan, lebih dari dua juta pohon kina telah digunakan untuk produksi kinine. Sampai pada tahun 40-an, menjelang pecahnya perang dunia kedua, perkebunan di sekitar Bandung menghasilkan bahan baku bagi 90 persen produksi kinine di seluruh dunia.

Untuk waktu yang lama kinine merupakan satu-satunya obat pemberantas malaria. Monopoli kina yang diasosiasikan dengan nama Bandung, baru berhasil dipatahkan setelah ditemukan obat malaria sintetis. Untuk pengembangannya perusahaan farmasi Jerman juga memainkan peranan penting.

Dr. Ir. G.P. Wenten Astika dari Pusat Penelitian Teh dan Kina menggambarkan pasokan kina dari Indonesia pasokan kina dari Indonesia hanya sekitar 5% di dunia. Padahal sebelum perang dunia ke-2, Indonesia bisa memasok 95%. Karena waktu itu Indonesia memonopoli pasaran kulit kina. Sekarang sudah banyak negara yang mengusahakan kina, seperti Rwanda, Afrika Selatan, Zaire lalu India juga, sehingga persaingannya semakin tajam.

Sayangnya, keberadaan taman Junghuhn di Lembang kini tak terawat padahal menurut keterangan penduduk sekitar, dahulu di taman ini bukan hanya dipenuhi pepohonan tetapi juga banyak terdapat berbagai macam satwa. (muhtar/dari dwelle.de)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat 9 Januari 2003

Kategori: Artikel · Pangalengan

eS… De… eS… Be…

23 Agustus 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Konsep halal dan haram dari dulu memang sudah dibuat bias atau baur, Sekitar pertengahan 80-an muncul program PORKAS (ada yang mengatakan berasal dari kata forecast yang artinya perkiraan), jika tidak salah merupakan tebak-tebakan kelompok hurup yang keluar setiap minggu, kemudian muncul SDSB, Sumbangan Dana Bakti Sosial Berhadiah, kalau yang ini berupa tebak-tebakan angka yang akan diundi setiap rabu malam jam 23:00. Kedua undian itu legal dan diakui pemerintah. Namanya saja keren, pake ada kata Sumbangan segala, tapi anehnya yang menyumbang orang yang tidak punya uang, berusaha cari uang kesana kemari untuk memebeli kupon undian.

Ada lagi yang tidak resminya, namanya togel atau Singapure, konon katanya jenis undian in berpusat di Singapura, berupa deretan angka yang keluar dari hasil pacuan kuda di Singapura atau Hongkong. Selain itu ada juga togel yang dimodali oleh seorang bandar dengan menggunakan angka hasil dari undian SDSB, lazim disebut kupon putih atau kupon liar.

Saat itu munculah istilah-istilah untuk SDSB ini, diantaranya :

Ngarumus, menghitung angka dengan rumus-rumus tertentu yang hasilnya merupakan perkiraan nomor atau angka yang akan keluar.

dimistik, aku ngak tau apa arti tepat nya, yang jelas merupakan sebuah rumus untuk penghitungan angka.

2 angka, 3 angka, 4 angka dst, merupakan jumlah digit yang akan dipasang dalam undian, semakin banyak jumlah digitnya semakin besar jumlah uang yang didapat bila kena.

misleuk, angka mati yang kemungkinan tidak akan keluar, masih banyak istilah yang aku tidak ingat lagi.

Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang iseng berbisnis dengan mengeluarkan nomor setan atau nomor perkiran yang akan keluar, biasa nya dijual dipasar, terminal atau di muat di koran lokal berupa coretan angka-angka yang tidak jelas, lebih mirip kaligrafi, pembeli dituntut untuk mengartikan coretan tersebut menjadi sederetan angka yang akan keluar.

Beberapa kejadian konyol pun merebak saat itu, anak kecil, dan orang gila ditanyain “Ujang.. nomer sabaraha kira-kira nu bakal kaluar engke peuting?” tentu saja anak kecil dan orang gila menjawab dengan sepontan, diluar benar atau tidak nya nomor yang diucapkan (Ngan jelema gelo nu nanya jelema gelo :) )

Sebagian orang mendatangi tempat-tempat kramat atau dukun yang bisa meramalkan nomor yang akan keluar seperti banyaknya orang yang meminta wangsit kode angka judi dari “Embah Junghuhn”, atau kejadian yang dialami Diman sepupuku, dia sengaja bermalam di kuburan Taman Makam Pahlawan Ciwidara untuk mencari wangsit, tapi bukannya nomor yang didapat, malah didatangi hantu dengan kepala penuh dengan mata, Hiii… seram.. lari deh tunggang langgang. Ada lagi orang yang menyepi di kaki Gunung Wayang Windu, waktu itu masih sepi belum seramai sekarang, eh.. malah didatangi jurig ipis, kata dia mirip difilm kartun jika ada orang kegencet, pipih, bisa berdiri dan berjalan, ada-ada saja… :) .

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, orang-orang dengan serius menyimak pengumumuan angka yang keluar di radio, bisanya penyiar mengumumkan satu persatu angka dari bagian depan ke belakang, agar pendengar dibuat tegang, berharap-harap cemas nomor yang dipasang nya keluar. Tiba pada 2 angka terahkhir pendengar semakin tegang “Angka yang berikutnya adalah… Lima” pendengar semakin tegang, “Para pendengar, tibalah saatnya penggundian angaka yang terakhir, dan angka yang keluar adalah!!!” Jreng.. jreng.. jreng… “Saaatuu….!!!!“. Berbagai respon mulai keluar dari tiap pendengar :) , ada yang berteriak “keuna Euy….!“, ada yang tertunduk lesu karena nomor nya ngak mirip sama sekali, atau yang lebih parah adalah kekecewaan orang yang hanya berbeda satu angka, “Goblog siah… beda sa angka :( ” sambil melemparkan kuponnya. Yang pasti, dari sekian kali pasang nomor, akan lebih banyak kalahnya daripada menangnya, Percaya deh…

Begitulah kalau pikiran orang sudah duit oriented, apapaun dia kejar untuk mendapatkan yang satu itu, sementara itu pemerintah mendukung undian ini dibawah naungan almarhum Departemen Sosial, terima kasih kepada Gus Dur yang telah membubarkannya. Setelah banyak di demo oleh berbagai LSM, mengecam adanya SDSB akhirnya pada akhir tahun 80-an undian ini ditiadakan. Jika dilihat dari kaca mata halal-haram, orang awam juga tahu kegiatan itu tidak sesuai dengan Syar’i. Karena dilegalkannya lah yang menjadi salah satu faktor kenapa bangsa ini sekarang tidak mengenal value, miskin nilai, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Kategori: Catatan Kecil