Seorang pria yang mengayuh gerobak beroda tiga dengan wadah kotak berwarna biru dan putih memasuki kompleks perumahan. Di depan gerobak ada gambar seekor sapi dan tulisan KPBS.
Suara keluar dari loud speaker kecil yang berada di sampingnya dan terdengar berulang-ulang. “…KPBS …Pangalengan …KPBS … Pangalengan…”, suara Maman yang nyaring memanggil pembeli.
Matahari yang terik tidak dihiraukan saat dua bocah ditemani ibunya bergegas mendekat untuk membeli susu segar. Produk susu berkemasan cup (gelas plastik) memiliki empat pilihan rasa, stawbery, mocca, cokelat dan melon, sedangkan susu bantal merupakan susu murni.
Maman merupakan salah seorang dari ratusan penjual susu KPBS yang berkeliling ke kompleks-kompleks perumahan di Bandung dan sekitarnya, menjajakan susu pasteurisasi milk treatment, pabrik pengolahan susu milik Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS).
Tak hanya ratusan orang penjaja seperti Maman. Industri yang dimotori oleh KPBS itu telah ‘menghidupi’ ribuan anggota dan bahkan puluhan ribu anggota masyarakat lainnya.
Milk treatmen memang tak sekedar menghasilkan susu segar, tapi juga susu yang akan diolah lebih lanjut oleh industri pengolah. Dan, KPBS tak hanya menangani bidang ini saja.
Usaha koperasi yang berbasis di Jl. Raya Pangalengan No. 340 Kabupaten Bandung, Jabar, telah mnggurita dengan enam unit lain, mulai pelayanan barang dan pakan ternak, PMT Cirebon, pembibitan dan hijauan, unit kesehatan hewan dan anggota, penyuluh, serta hingga unit usaha PT. BPR Bandung Kidul.
Kinerjan itulah yang amengantarkan KPBS menjadi Koperasi Berprestasi 2007, sekaligus menjadi salah satu dari sepuluh koperasi penerima award pada acara puncak Hari Kopeasi ke-60, yagn disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Perjalanan KPBS terbilang panjang hingga sukses dalam upaya menyejahterakan anggota, para peternak dan pemerah susu sapi di Bandun g Selatan. Daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000-1.420 meter di atas permaukaan laut dan suhu udara 12-28 derajat Celcius ini memang cocok untuk agribisnis sapi perah.
Sejak pemerintahan penjajah, di Pangalengan dikenal peternakan yang dikelola perusahaan Belanda, De Friensche Terp, Almanak, Van Der Els dan Big Man. Pemasaran dilakukan Bandungche Melk Center di Kota Bandung.
Pada masa pendudukan Jepang perusahaan itu dihancurkan dan sapi diambil penduduk. Para petani membentuk koperasi pertama pada 1949 dengan nama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip).
Pada 1961, Gappsip tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian, dan tata niaga persusuan sebagian dikuasai tengkulak. Menyadari hal itu beberapa tokoh masyarakat sepakat membentuk koperasi baru yang bernama KPBS pada 1962 untuk kembali mengangkat kesejahteraan peternak.
Kerja keras terus dilakukan meski banyak kendala yang dihadapi khususnya kualitas rendah dan tingkat kerusakan susu di koperasi tinggi.
Kemitraan
Untuk mengatasi kesulitan tersebut KPBS memutuskan menjalin kemitraan dengan PT Ultra Jaya untuk membangun milk treatment. Dalam jangka waktu lima tahun pembayaran dilakukan dengan diangsur dari saham anggota RP. 25 per liter.
Pada 1979 milk treatment diresmikan Menteri Muda Urusan Koperasi, dan pada 1983 milk treatment seutuhnya menjadi milik KPBS.
Dalam perkembangannya pemerintah mulai memberikan perhatian dengan kredit sapi perah dari New Zeland, Australia dan Amerika Serikat. Pada tahun 1994 sebanyak 2.400 ekor sapi dari Selandia Baru didatangkan ke Pangalengan.
Saat ini KPBS memiliki 7.100 orang anggota di mana sebanyak 4.701 diantaranya merupakan anggota aktif yang setiahp hari memasok susu.
Jumlah sapi 15.991 ekor, diantaranya 9.666 ekor sapi laktasi. Prosuksi susu KPBS rata-rata 34,5 juta liter per tahun atau 95.601 liter per hari. “Hanya sekitar 85% susu yang dijual ke IPS karena persyaratan kualitas. sementara sisanya kami olah jadi susu kemasan. Dulu kami kesulitan dengan melimpahnya susu tapi kini teratasi sehingga semua susu dari anggota bisa kami terima,” kata Humas KPBS Andri Noviadi.
Peternak Pangalengan kini sudah bisa merasakan keuntungan lebih karena harga susu yang membaik berkisar Rp 2.900 – Rp. 3.000 per kg. Susu KPBS kini menjadi langganan rutin IPS, seperti PT. Ultra Jaya dan PT. Frisian Flag.
Kini, hal yang paling penting adalah menjaga kualitas susu. Pihak perbankan pun kini tidak lagi pelit mengucurkan kredit kepada Anggota KPBS karena pinjaman selalu dilunasi.
Selain untuk anggotanya, KPBS menjadikan warga setempat sebagai mitra yang kreatif dengan meproduksi makanan dan minuman dari susu, seperti tahu susu, krupuk susu, dan dodol susu.
Tak sekedar menyejahterakan anggota. Pantas, jika KPBS mendapatkan penghargaan sebagai salah satu koperasi terbaik tahun ini. (redaksi@bisnis.co.id)
Oleh Teguh Raharjo
Kontributor Bisnis Indonesia






6 tanggapan so far ↓
Budi // 16 Mei 2009 pada 12:48 pm |
saya investasi 3 ekor sapi di pangalengan, dipelihara oleh teman saya. yg ingin ditanyakan adalah bagaimana prospek kedepan usaha sapi perah khususnya dipangalengan sehubungan dengan kebijakan pemerintah menurunkan bea masuk susu impor hingga nol persen!!!
terima kasih.
aida // 28 Mei 2009 pada 2:13 am |
ass…punten mau tanya aida lagi nyari situs resmi/web dari KPBS ko ga ada ya?kbtulan aida lagi skripsi tentang sejarah KPBS pangalengan dan butuh informasi dari web nya selain dari KPBS nya langsung di Pangalengan karena kebetulan juga aida orang Pangalengan.nuhun
ina // 5 Agustus 2009 pada 4:51 am |
mengenai harga susu dunia yang sangat murah, terlebih adanya kebijakan pemerintah mengenai bea masuk impor susu, memang sangat merugikan. tetapi KPBS memiliki strategi tersendiri untuk menghadapinya.. Saat ini KPBS memiliki kontrak kerjasama dengan frisian flag indonesia yang akan mendatangkan tim expert dari Belanda demi memajukan usaha peternakan sapi perah di Pangalengan.
budi // 11 September 2009 pada 8:42 pm |
dear ina, trm ksh atas infonya. alhamdulillah KPBS hingga saat ini belum ada kesulitan terkait kebijakan pemerintah mengenai bea masuk impor susu.
mau tanya lagi…
barangkali punya bussiness plan usaha peternakan sapi perah? khususnya utk daerah pangalengan. minimum berapa ekor ya?
trm ksh.
arief // 11 Agustus 2009 pada 7:15 am |
ass..numpanp nanya..klo mo menjadi anggota kpbs tp tdk ad kenalan,gmn caranya?
anton // 28 September 2009 pada 3:18 am |
Mau nanya gimana cara nya beli susu murni dgn harga pool, harga bisa di jual kembali. nuhun