Wait!
Oh yes, wait a minute Mr. postman
Wait!
Wai-ai-ai-ait Mr. postman
Mr. postman look and see (oh yeah)
You got a letter in your bag for me (please please Mr. po-o-o-stman)
I’ve been waiting such a long time (oh yeah)
Since I heard from that girl of mine.
Pleas Mr. Postman – The Beatles
Walaupun dicap sebagai penjajah, tak ada salahnya melihat sisi baik dari apa yang dilakukan pemerintah kolonial yang sampai sekarang masih dipakai. Jawatan Pos Telepon, dan Telegrap (PTT) milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang diakuisisi paksa Indonesia pada tanggal 27 September 1945. PTT memiliki infrastruktur yang lengkap dan luas meiliputi hampir seluruh wilayah Indonesia. Dengan struktur jaringan yang sagat kuat dari mulai Kantor Pos Besar di setiap kota sampai ke kantor pos cabang dan kantor pos kecil di seluruh pelosok termasuk Pangalengan. Struktur jaringan ini belum tertandingi oleh perusahaan kurir manapun yang banyak bermunculan saat ini.
Kantor Pos yang terletak di Jl. Pasanggrahan Pangalengan (dibelakan Telkom) rupanya sudah ada 1900-an, tidak jelas jelas kapan tepatnya berdiri. Kantor tersebut merupakan sarana komunikasi Pangalengan dengan dunia luar.
Dengan berkembangnya teknologi infomasi saat ini, peran kantor pos sudah mulai berkurang. Kecenderungan masyarakat menjadikan sarana telepon selular dan untuk berkomuniaksi langsung atau SMS dibanding mengirim surat, kartu ucapan selamat atau menjawab pertanyaan kuiz melalui kartu pos menjadi penyebab utama berkurangnya pengguna jasa Pos. Selain itu dengan maraknya pendirian Bank menyebabkan Transfer dana melalui rekening bank lebih populer daripada pengiriman uang melalui jasa wesel pos karena pertimbangan praktis dan keamanan.
Untuk mengenang kejayaan PTT, bagi para kolektor perangko, di Jerman rupanya ada yang menjual perangko bergambar wajah Putri Mahkota Ratu Wilhelmina dengan cap Pos Pangalengan tahun 1922 seharga 1 euro yang bisa dimiliki via ebay.





