Catatan Ide

Masukan dari Oktober 2009

Gempa dan Rumah Tradisional Sunda

2 Oktober 2009 · & Komentar

Artikel KOMPAS Rabu 30 September 2009

Oleh JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH

Gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter pada 2 September 2009 yang berpusat di laut selatan Tasikmalaya membuat Pulau Jawa bergetar. Akibat khas dari gempa besar ini adalah banyaknya rumah yang hancur karena dinding dan atap runtuh atau gentengnya lepas dari reng, terutama di daerah yang dekat dengan episentrum.

Kebanyakan bangunan yang rusak tersebut adalah rumah tembok dengan atap genteng. Sementara rumah yang dibangun dengan cara dan material tradisional relatif aman, seperti di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut (Kompas, 14/9/2009).

Rumah-rumah tradisional Sunda, baik yang terdapat di dalam kampung adat, seperti Kampung Kuta, Ciamis; Kampung Naga, Tasikmalaya; Cikondang, Bandung; serta Desa Kenekes, Lebak; maupun di luar kampung adat umumnya berbentuk panggung. Bangunan tidak seluruhnya menempel pada tanah, tetapi dihubungkan dengan tiang yang disangga batu tatapakan yang berfungsi sebagai kaki.

Dengan demikian, ketika terjadi lini (gempa), getarannya diredam oleh batu tatapakan sehingga meskipun bangunan turut oyag (bergetar), rumah relatif dapat bertahan menerima beban getar gempa bumi sampai kekuatan tertentu.

Model rumah panggung dalam masyarakat Sunda tradisional terus dipertahankan. Salah satunya dasarnya adalah karena merupakan adaptasi dari kosmologi Sunda yang membagi jagat raya ke dalam tiga tingkatan: buana nyungcung, tempat para dewa atau Tuhan; buana panca tengah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya; dan buana larang, tempat orang yang telah meninggal, yaitu tanah.

(lagi…)

Kategori: Artikel · Catatan Kecil

SOS Teh Indonesia

2 Oktober 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan Agus Pakpahan, Ketua Badan eksekutif Gabungan Asosiasi
Petani Perkebunan Indonesia.

Ini adalah salah satu contoh, betapa menyedihkan perkembangan ekspor teh Indonesia, yang dulu sempat menjadi andalan ekspor perkebunan. Keberhasilan masa lalu telah memerangkap kita untuk tetap menekuni usaha yang sama bertahun-tahun tanpa inovasi. Dalam salah satu artikel di Kompas, terlihat betul betapa menyedihkannya perkembangan ekspor teh Indonesia. Teh, yang dulu menjadi andalan ekspor perkebunan, sekarang nilai penjualannya anjlok terus. Sayangnya tak banyak orang perkebunan kita yang menyadari bahwa research & development (R & D) sangat penting. Di pasaran internasional, saat ini berkat kemajuan R & D, unsur teh dalam campuran teh yang diperdagangkan telah semakin kecil. Barang-barang konsumsi berupa teh telah dicampur oleh ingredient lain seperti bunga mawar, aroma mangga, kayu manis, jeruk dan sebagainya.

Selain itu, ada demikian banyak produk pengganti yang dijajakan sebagai teh.  Korea Selatan misalnya, saat ini sedang gencar-gencarnya memasarkan ginseng dalam bentuk teh (teh ginseng).  Atau negara-negara Amerika Selatan dan India yang memasok teh Chamomille. Semua itu telah (lagi…)

Kategori: Artikel