Entries categorized as ‘Artikel’
Artikel KOMPAS Rabu 30 September 2009
Oleh JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH
Gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter pada 2 September 2009 yang berpusat di laut selatan Tasikmalaya membuat Pulau Jawa bergetar. Akibat khas dari gempa besar ini adalah banyaknya rumah yang hancur karena dinding dan atap runtuh atau gentengnya lepas dari reng, terutama di daerah yang dekat dengan episentrum.
Kebanyakan bangunan yang rusak tersebut adalah rumah tembok dengan atap genteng. Sementara rumah yang dibangun dengan cara dan material tradisional relatif aman, seperti di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut (Kompas, 14/9/2009).
Rumah-rumah tradisional Sunda, baik yang terdapat di dalam kampung adat, seperti Kampung Kuta, Ciamis; Kampung Naga, Tasikmalaya; Cikondang, Bandung; serta Desa Kenekes, Lebak; maupun di luar kampung adat umumnya berbentuk panggung. Bangunan tidak seluruhnya menempel pada tanah, tetapi dihubungkan dengan tiang yang disangga batu tatapakan yang berfungsi sebagai kaki.
Dengan demikian, ketika terjadi lini (gempa), getarannya diredam oleh batu tatapakan sehingga meskipun bangunan turut oyag (bergetar), rumah relatif dapat bertahan menerima beban getar gempa bumi sampai kekuatan tertentu.
Model rumah panggung dalam masyarakat Sunda tradisional terus dipertahankan. Salah satunya dasarnya adalah karena merupakan adaptasi dari kosmologi Sunda yang membagi jagat raya ke dalam tiga tingkatan: buana nyungcung, tempat para dewa atau Tuhan; buana panca tengah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya; dan buana larang, tempat orang yang telah meninggal, yaitu tanah.
(lagi…)
Kategori: Artikel · Catatan Kecil
Tulisan Agus Pakpahan, Ketua Badan eksekutif Gabungan Asosiasi
Petani Perkebunan Indonesia.
Ini adalah salah satu contoh, betapa menyedihkan perkembangan ekspor teh Indonesia, yang dulu sempat menjadi andalan ekspor perkebunan. Keberhasilan masa lalu telah memerangkap kita untuk tetap menekuni usaha yang sama bertahun-tahun tanpa inovasi. Dalam salah satu artikel di Kompas, terlihat betul betapa menyedihkannya perkembangan ekspor teh Indonesia. Teh, yang dulu menjadi andalan ekspor perkebunan, sekarang nilai penjualannya anjlok terus. Sayangnya tak banyak orang perkebunan kita yang menyadari bahwa research & development (R & D) sangat penting. Di pasaran internasional, saat ini berkat kemajuan R & D, unsur teh dalam campuran teh yang diperdagangkan telah semakin kecil. Barang-barang konsumsi berupa teh telah dicampur oleh ingredient lain seperti bunga mawar, aroma mangga, kayu manis, jeruk dan sebagainya.
Selain itu, ada demikian banyak produk pengganti yang dijajakan sebagai teh. Korea Selatan misalnya, saat ini sedang gencar-gencarnya memasarkan ginseng dalam bentuk teh (teh ginseng). Atau negara-negara Amerika Selatan dan India yang memasok teh Chamomille. Semua itu telah (lagi…)
Kategori: Artikel
Dewa K.S. Swastika dkk.
Bulletin Agro Ekonomi I (4) 2001 : 16-21
Pesatnya perkembangan industri susu segar dalam negeri selama periode 1979-1996 tidak terlepas dari berbagai kebijaksanaan yang kondusif. Pada tahun 1983 pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, yaitu Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dan Koperasi. Dalam SKB tersebut Industri Pengolah Susu diwajibkan menyerap susu segar dalam negeri sebagai pendamping dari susu impor untuk bahan baku industrinya. Proporsi penyerapan susu segar dalam negeri ditetapkan dalam bentuk rasio susu, yaitu perbandingan antara pemakaian susu segar dalam negeri dan susu impor yang harus dibuktikan dalam bentuk bukti serap.
Untuk mendukung perkembangan produksi susu segar dalam negeri, selain menjamin pemasaran, pemerintah juga mengupayakan bibit sapi perah unggul melalui impor. Selama periode 1979 sampai 1995, pemerintah telah mengimpor sebanyak 87.885 ekor bibit sapi perah. Sapi perah impor tersebut disalurkan kepada peternak melalui koperasi primer dalam bentuk kredit. Peternak mengangsur kredit tersebut dengan sebagian dari hasil penjualan susu. Namun demikian, usaha peternakan sapi perah di Indonesia masih belum efisien, sehingga harga susu segar dalam negeri relatif lebih mahal dari pada susu impor. Akibatnya, sekitar 70 persen dari kebutuhan bahan baku IPS masih diimpor. Penelitian ini mendalami dampak krisis ekonomi terhadap peternakan sapi perah.
Krisis ekonomi telah mengakibatkan populasi sapi perah di Jawa Barat turun cukup tajam yaitu dari 119.744 ekor pada tahun 1996 menjadi 79.234 ekor pada tahun 1998, atau turun sekitar 16,9 persen per tahun (Tabel 1). Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : (a) Tingginya harga bibit sapi dan pakan, (b) Tingginya (lagi…)
Kategori: Artikel · Pangalengan · Ternak
Oleh: Arwi Yudhi Koswara Departemen Teknik Planologi-ITB Dibuat: 2003-06-26 , dengan 1 file(s).
Keywords: Daya dukung,Sumberdaya manusia,Fasilitas,Pangalengan,Peternakan Subject: Sumberya Manusia,Sumberdaya
Alam,Ekonmi Wilayah Heading: Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Pembangunan umumnya didukung oleh adanya sumber daya yang ada di suatu wilayah. Pemanfaatan sumber daya dapat berubah menjadi exploitasi sumber daya apabila kegiatan melampaui batas maksimum daya dukungnya (Susetyo, 1990). Berdasarkan adanya pengetahuan tentang daya dukung sumber daya, dapat dihitung seberapa besar suatu kegiatan dapat ditampung di suatu wilayah. Kajian daya dukung usaha peternakan sapi perah di Pangalengan (lagi…)
Kategori: Artikel · Pangalengan · Ternak
IPAH Datipah (59) tidak pernah mengira bahwa usaha permen karamel yang dirintisnya melalui pemanfaatan limbah susu akan mengantarkannya meraih gelar Upakarti. Bisnis ini pula yang menggiringnya untuk memiliki pabrik yang menyerap puluhan tenaga kerja.
Akhir tahun 1969 wanita kelahiran 27 Agustus 1945 ini memulai usaha pembuatan permen karamel dengan menyisihkan uang belanja harian dari suaminya, Ismail. Ia membeli limbah susu dari beberapa peternak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
“Waktu itu susu sapi murni belum banyak dikonsumsi orang sehingga banyak terbuang. Lalu saya iseng-iseng memanfaatkan susu yang tersisa untuk membuat permen karamel. Ternyata, permen buatan saya dibeli orang,” tutur Ipah tentang awal usahanya.
Seiring dengan mengalirnya pesanan permen karamel, wanita tamatan SD Pangalengan ini memperluas penjualan permennya ke warung-warung hingga ke pasar. Susu murni tidak lagi dibelinya secara tersebar dari peternak-peternak sapi, melainkan dari Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Bahan dasar pembuatan permen karamel berupa susu cair dan gula pasir. Dalam seminggu, Ipah menghabiskan sekitar 30 liter susu sapi, dengan harga susu sekitar Rp 20 per liter.
(lagi…)
Kategori: Artikel · Catatan Kecil · Pangalengan