Catatan Ide

Entries categorized as ‘Resensi’

The Story of Tea 1937

15 Agustus 2008 · & Komentar

Documentary from 1937 filmed in the small Indonesian West Java town of Malabar. Follows the entire process of tea manufacturing from being grown and harvested in the fields, ground and processed in the factory, and eventually shipped out to countries around the world. Excellent footage of Indonesian men and women working in fields and factories, being paid meager wages by Caucasian superiors, and the inner-workings of a factory. Great shot of an ocean liner passenger sitting in a deckchair relaxing over a cup of tea. Transferred from an original 35mm nitrate print. Footage from this subject is available for licensing from (http://www.youtube.com)

Dokumentasi film di atas dibuat oleh Andre de la Varre yang berjudul “The Story of Tea” tahun 1937, hampir 9 tahun sepeninggal K.A.R Boscha. Andre de la Varre sendiri adalah sorang berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai pembuat film dokumenter terkenal pada masa nya. lahir di Washington D.C. tahun 1902, Andre de la Varre keluar dari sekolah ketika berusia 17 tahun, dengan membawa sebuah kamera motion picture , dia pergi ke eropa untuk memulai petualangan. Dari membuat travel films sendiri dan kemudian pada tahun 1924 menjadi kameramen Burton Holmes. Awal tahun 1930, de la Varre resign untuk memulai karir sendiri dengan julukan “The Screen Traveler” dengan membuat theatrical pendek independent release untuk dijual ke beberapa setudio terkenal di Hollywood. Pada tahun 1937 dia singgah di Pangalengan untuk mendokumentasikan Perkebunah teh Malabar peninggalan K.A.R Bosscha dengan menggunakan film 35 mm. Filem yang berdurasi sekitar setengah jam ini menceritakan tentang proses pabrikasi teh, mulai dari pembukaan lahan untuk kebun, pemeliharaan pohon teh, pemetikan, processing, hingga pengiriman ke pelabuhan dan pengapalannya di Cirebon menuju kota-kota besar di dunia.

Film dimulai dari preview landscape Pangalengan yang pada saat itu masih hutan belantara, kemudian hutan ditebangi untuk membuka lahan baru, lalu lahan tersebut ditanami pohon teh lengkap dengan pemeliharaannya. disana digambarkan pula proses produksi teh dimulai dari memetik, ditimbang oleh mandor dan hasilnya diangkut dengan pikulan ke pabrik teh. Bila dilihat dari gambar pabriknya bisa dipastikan pabrik terbut merupakan pabrik teh malabar yang sekarang digunakan untuk bangunan sekolah SMPN 2 Pangalengan.

Proses pembuatan teh di pabrik dimulai dengan memasukan teh ke pabrik menggunakan kereta gantung, teh dilayu kemudain digiling menggunakan mesin. Setelah itu teh disangrai pada tunggku pembakaran. hasilnya diayak dan dikemas menggunakan timah dan kotak kayu. Test Qualy Control tidak terlewatkan, digambarkan dengan dua orang bule yang mencicipi teh. Pemberian label di kotak kemasan teh merupakan akhir dari proses ini, kotak diberi label Malabar Tea dan kota tujuan expor teh tersebut diantanya London, New York dan Rio de Jeneiro Brazil

Kesan feodalisme juga tergambar dari film ini, ibu-ibu pemetik teh berjongkok rapih untuk medapat giliran pembagian upah dari seoran bule, dipanggil satu persatu oleh seorang mandor berkumis tebal, bergeser perlahan mendekati pembagi upah dengan terlebih dahulu menyembah sebagai ucapan terima kasih. Pemilik pabrik juga lumayan peduli dengan kesejahteraan karyawannya dengan mengadakan semacam pos yandu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak karyawan.

Kategori: Pangalengan · Resensi

Teladan sepanjang masa

30 Agustus 2007 · & Komentar

buku_muhammad.gifKrisis idola tengah melanda kaum muda saat ini, juga tidak tertutup kemungkinan melanda kaum tua, mulai dari mengidolakan bintang film, bintang sinetron, lebih konyol lagi ada yang mengidolakan tokoh kartun yang notabene buatan manusia dan tidak layak dijadikan idola.

Bagi rekan-rekan Muslim cukuplah statement Allah yang mengatakan “Sesungguhnya pada diri Rasul itu ada terdapat suri tauladan yang baik untuk kamu ,bagi orang-orang yang mengharapkan Rahmat dan hari kemudian dan yang banyak yang memuja Allah“, tentu yang Allah maksud adalah Rasulullah Muhammad SAW, mengapa kita tidak jadikan dia idola, padahal tokoh-tokoh sekuler sekalipun mengakui kehebatan beliau. Ayo kaum muslim, jadikanlah kita sebagai Muhammad Fans Club.

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Siapakah Muhammad itu, tentunya perlu kita mengenal lebih jauh siapa dia, dari mana asalnya, bagaimana tingkah laku nya. Saya memiliki sebuah buku rujuakan terbitan Serambi yang berjudul “Muhammad Kisah hidup Nabi berdasarkan sumber klasik” pengarang Martin Lings, seorang mualaf jenius Irlandia lulusan Universitas Oxford.

Menurut saya, buku ini begitu sederhana penyampaiannya, tapi begitu berkesan maknanya. Menerangkan secara detil kisah hidup Rasulullah dari mulai lahir sampai beliau wafat. Saya jadi sedikit tahu tentang asbabul nuzzul dari buku ini, latar belakakang kenapa suatu ayat dala Al-Qur’an diturunkan. Banyak kisah yang belum saya ketahui sebelumnya ada dalam buku ini, pada umumnya di madrasah dulu hanya dijelaskan siapa Nabi Kita itu secara global dengan step-step grafis sebagai gambaran perjalanan hidup Nabi, tentunya sangat tidak menarik buat saya. Dalam buku ini juga terdapat kisah heroik perang Uhud, Perang Badar, perang parit sampai skandal pertama dalam dunia Isalm dimana Aisyah digosipkan berselinggkuh dengan sahabat Rasul yang kemudian diluluruskan oleh Allah dengan turunnya sebuah ayat Al-qur’an.

Rujukan buku ini benar-bernar dari sumber klasik Jazirah arab 1400 tahun yang lalu ditambah dengan hadist shahih dari perawi handal. index referensi nya ditulis di halaman akhir buku.

Tak terjangkau tinggi pekertimu
Tidak tergambar indahnya akhlak mu
Tidak terbalas segala jasa mu
Sesungguhnya engkau rasul mulia

Tabahnya hatimu menempuh dugaan
Mengajar arti kesabaran
Menjulang panji kemenangan
Terukir nama mu di dalam Al Quran

Rosululloh

Album : Cahya Ilahi
Munsyid : Hijjaz

Kategori: Catatan Kecil · Resensi