Andai Junghuhn Tahu Nasib Kina Indonesia…

TAMPAK kurang terawat dan banyak sampah, itulah kondisi yang terlihat saat memasuki rimbunnya halaman Taman Junghuhn di Jayagiri Kec. Lembang Kab. Bandung. Di bawah sebuah tugu–sebenarnya nisan–, terbaring jasad Franz Wilhelm Junghuhn, yang dikenal sebagai tokoh usaha penanaman dan industri kina di Indonesia (dahulu Hindia Belanda). Hingga kini kina masih menjadi obat ampuh untuk penyembuhan penyakit malaria.

Franz W. Junghuhn merupakan perintis penanaman kina di Indonesia. Ia merintisnya di sejumlah daerah pegunungan di Wilayah Priangan Jabar mulai sekira tahun 1830. Belakangan, usaha yang dirintisnya itu mampu membawa harum nama daerah Priangan, dengan sempat menjadi pemasok utama kina dunia sampai menjelang Perang Dunia II, sebelum akhirnya usaha kina Jabar (baca nasional) kemudian kini jauh mengalami kemunduran.

Sebagai penghargaan atas nama besar dan jasa Franz W. Junghuhn, namanya diabadikan untuk sebuah perkebunan dan rumah sakit di Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Setidaknya, masyarakat dapat mengenal namanya melalui Perkebunan Pasir Junghuhn (kini bagian dari Perkebunan Purbasari) dan Rumah Sakit Pasir Junghuhn, yang kini dikelola PTPN VIII.

Namun dibandingkan nama besar dan jasanya itu, tak demikian dengan halnya dengan penghargaan sebagian masyarakat kini atas makamnya. Keberadaan makamnya di Jayagiri, kini seakan terlupakan, bahkan banyak yang tak mengetahui bahwa tokoh usaha kina di Indonesia itu makamnya ada di situ.

Padahal, ilmuwan sekaligus pencinta alam bangsa Jerman yang lahir di Mansfeld tahun 1809 itu, diketahui sangat mencintai alam daerah Priangan Jabar. Di hari tuanya, Franz W. Junghuhn hidup tenang bersama anak dan istrinya di Jayagiri yang terletak di Lereng Gunung Tangkubanparahu Kec. Lembang, Kab. Bandung, sampai kemudian ia meninggal tahun 1864 dan dikebumikan di sana.

Konyolnya, sebagian masyarakat setempat belakangan malah lebih sering mengaitkan makam Franz W. Junghuhn dengan hal-hal kurang rasional, terutama penampakan makhluk halus.

Menurut kuncen makam Junghuhn, Suharto (62 tahun), sejak mulai bertugas menjaga makam itu, banyak masyarakat lokal yang mengunjungi makan justru bukan untuk kaitan sejarah. Berbeda dengan sejumlah warga asing, terutama asal Jerman dan Belanda, mereka mengunjungi makam Junghuhn untuk menghargai sejarah.

Banyaknya orang yang meminta wangsit kode angka judi dari “Embah Junghuhn”, terjadi pada tahun 1980-1990-an lalu.Bukan hanya itu nasib yang dialami Junghuhn, lingkungan halaman makamnya pun kini terancam rusak. Pasalnya, kata Suharto, saat ini tak ada lagi donatur yang membiayai perawatan makam dan taman itu, plus honor bulanannya, karena Pusat Kebudayaan Jerman “Goethe Institut” menutup kantornya di Bandung.

Repotnya, sikap sebagian masyarakat sekitar pun kurang menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Ini terindikasi dari upaya yang dilakukan sebagian masyarakat ingin menebang pohon di sekitar makam Junghuhn, di mana kayunya untuk dibuat bahan bangunan rumah. Namun berbagai upaya itu, disebutkan Suharto, kemudian tak berhasil, apalagi BKSDA (Badan Koordinasi Sumber Daya Alam) Jabar selaku pengelola, memberikan sikap tegas.

Nasib yang serupa pun dialami sohib karibnya sesama planters, KAR Bosscha, di mana makamnya di PTPN VIII Kebun Malabar Kec. Pangalengan, Kab. Bandung pun juga lebih banyak dijadikan objek mencari penampakan yang dianggap sebagai arwah mantan administratur perkebunan itu.

Ini pun pernah dilakukan oleh tim kru sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Ibarat “sambil menyelam minum air”, kru televisi yang tadinya mengambil suasana agrowisata di Perkebunan Malabar, rupanya tak melewatkan kesempatan dengan memanfaatkan “potensi” yang ada dari makam salah seorang donatur pendirian Institut Teknologi Bandung, peneropongan bintang di Lembang, dan Kantor PTT (cikal bakal berdirinya PT Telkom, PT Pos Indonesia) tersebut.

Kontan saja, ini membuat Kaur Agrowisata PTPN VIII, Syarif Hidayat, sempat menggerutu.

Yah inilah realitas, sampai sejauh mana sikap sebagian kalangan masyarakat generasi muda dalam menghargai sejarah dan jasa seseorang terhadap umat manusia. Franz W. Junghuhn dan KAR Bosscha memang tokoh bangsa asing pada zaman penjajahan, namun juga mempunyai jasa besar bagi masyarakat umum, termasuk bangsa Indonesia secara tak langsung maupun langsung.

**

WALAU kondisinya jauh menurun dibandingkan puluhan tahun lalu, daerah Jabar sampai kini masih menjadi produsen utama kina nasional, di samping sebagian kecil juga ditanam di Jateng, Jatim, dan Sumatera Barat. Tanaman kina dimanfaatkan dengan diambil kulit kayunya, untuk kemudian diproses sesuai keperluan, mulai pil kina (penyembuh malaria), garam kina, minuman ringan, dll.

Puncak kejayaan kina Indonesia dialami sampai menjelang Perang Dunia II pecah (saat itu masih bernama Hindia Belanda). Lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dipasok dari berbagai perkebunan kina di daerah Priangan Jabar, dengan total produksi 11.000 s.d. 12.400 ton kulit kina kering per tahun yang pabriknya berada di sekitar Bandung.

Menurut data dari Dinas Perkebunan Jabar, yang diberikan Kasi Manajemen Kelembagaan Perkebunan, Sunarya, sampai menjelang tahun 1940 jumlah perkebunan di Jabar yang mengusahakan tanaman kina mencapai 58 unit (dari total 323-326 unit perkebunan yang ada di Jabar, jika ditambah Banten menjadi sekira 400 unit pada saat itu). Daerah penanaman kina terbanyak di Kab. Bandung (18 perkebunan), diikuti Kab. Garut (13), Kab. Cianjur (12), Kab. Bogor (5), Kab. Sukabumi (4), Kab. Purwakarta (2), Kab. Subang (2), dan Kab. Sumedang (2). Jumlah itu, terdiri dari perkebunan yang seluruhnya menanam kina, serta yang diusahakan di antara tanaman teh dan karet, dengan luas penanaman kina total seluas 17.000-18.000-an hektare.

Berdasarkan catatan “PR”, setelah zaman kemerdekaan (1945), jumlah perkebunan yang mengusahakan tanaman kina di Jabar menyusut drastis. Di antara penyebabnya, rusak karena perang, hubungan Indonesia dengan negara pengimpor terputus sehingga “kehilangan” pasar, serta banyak perkebunan mengkonversi kina ke tanaman lain (tentunya yang dinilai lebih menguntungkan).

Walau demikian, sejumlah perkebunan yang mengelola kina, bersama berbagai perkebunan yang mengelola tanaman lain, dapat terselamatkan, lalu dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia menjelang dan sesudah tahun 1958. Berbagai perkebunan itu kemudian dikelola Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) dan perusahaan swasta. Di Jabar hanya tinggal sekitar 20 unit perkebunan yang masih terdapat tanaman kina.

Untuk perkebunan di Jabar yang dikelola PPN, saat reorganisasi PPN Lama dan PPN Baru dilakukan peleburan menjadi PPN Kesatuan pada tahun 1961, tinggal terdapat 16 perkebunan yang mengusahakan tanaman kina (juga antara yang seluruhnya ditanami kina, maupun bersama tanaman teh, karet, atau kopi). Namun di luar itu, terdapat pula beberapa perkebunan yang mengusahakan tanaman kina oleh perusahaan perkebunan negara lain, yaitu PPN Dwikora IV, perusahaan swasta, serta yang diusahakan oleh rakyat.

Pada tahun 1963-1968, perusahaan perkebunan negara diubah lagi, di mana di Jabar, tanaman kina bersama teh ditangani PPN Aneka Tanaman (Antan) VII, PPN Antan VIII, PPN Antan IX, dan PPN Antan X. Setelah itu kemudian diubah lagi, dengan dibentuk menjadi PN Perkebunan/PT Perkebunan (PNP/PTP), di mana tanaman kina di Jabar ditangani PTP XII dan PTP XIII. Sedangkan perkebunan yang dikelola perusahaan lain, misalnya PT Kimia Farma (Perkebunan Bintang), dan swasta (misalnya Perkebunan Selekta).

Jumlah areal penanaman kina pun kembali berkurang karena berbagai sebab, terutama akibat kurang terpelihara. Menurut data tahun 2002-2003 dari Dinas Perkebunan Jabar, di daerah ini tanaman kina yang masih diusahakan hanya tinggal sekira 4.496,27 hektare. Namun demikian, berdasarkan data s.d. triwulan I/2003 dari PTPN VIII, tanaman kina yang mereka kelola menjadi tinggal seluas 3.859 hektare. Produksi kina mereka seluruhnya dijual kepada pabrik pengolah industri hilir, yaitu PT. Sinkona Indonesia Lestari (anak perusahaan PTPN VIII yang berpatungan bersama PT. Kimia Farma dan PT. Tri Usaha Bakti) untuk selanjutnya diekspor. Sampai hitungan waktu itu, produksi kina sebanyak 163 ton, sedangkan volume penjualan berjumlah 119 ton dengan nilai Rp 1,8 miliar.

**

MENURUN drastisnya produksi kina Indonesia, khususnya di Jabar, membuat posisi Indonesia kini berbalik menjadi negara importir. Padahal di Indonesia, saat ini terdapat dua pabrik kina, yaitu PT Kimia Farma dan PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) yang dikabarkan membutuhkan sekira 3.000-5.000 ton kulit kina per tahun. Sedangkan produksi kulit kina dari perusahaan tersebut, dikabarkan sekira 1.500-1.800 ton per tahun.

Indonesia juga merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki perkebunan dan pabrik pengolahan kina yang lokasinya berdekatan. Kapasitas normal per tahun dari pabrik PT. Kimia Farma sebesar 150 ton dalam bentuk kinina sulfat, sedangkan PT. SIL berkapasitas 150 ton dalam bentuk kinina/kinidina. Dari jumlah itu, kebutuhan bubuk kina internasional sendiri saat ini baru berkisar 600 ton per tahun, tak berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya.

Lain halnya jumlah kulit kina yang dibutuhkan dunia, berdasarkan informasi Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Kab. Bandung, saat ini mencapai 10.000 ton setiap tahunnya. Kebutuhan itu dipenuhi dari negara di kawasan Afrika sebanyak 5.000 ton, dan negara lain di luar Indonesia sebanyak 1.700 ton.

Pada kondisi lain, belakangan ini tantangan produk kina asal Indonesia pun mengalami tantangan, di antaranya akibat ketidakpastian harga pada pasar internasional yang dialami sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh masih “gelap”-nya kejelasan harga dan produksi di pasar internasional selama beberapa tahun terakhir.

Direktur Utama PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL), Imam Wahyudi, pernah menyebutkan, harga pasaran kina dunia menjadi cenderung terdikte oleh pembeli. Parahnya, berbagai produsen kina setengah jadi kemudian menjadi saling menawarkan harga yang rendah, sekadar berharap memperoleh pasaran secara cepat.

Menurutnya, produsen utama produk kina setengah jadi di dunia sampai kini terutama Indonesia (PT SIL dan PT Kimia Farma), Jerman (Buchler), disusul Belanda, Bangladesh, dan dikabarkan India membangun pabrik pengolahan. Namun, di antara mereka, saingan Indonesia hanya Buchler Jerman karena memiliki peralatan lebih modern.

Produk kina setengah jadi dari PT SIL sendiri, dikatakan Imam Wahyudi, umumnya dijual dalam bentuk garam kina, dengan pasar utama ke AS, Eropa, dan beberapa negara Asia, untuk bahan farmasi dan bahan minuman. Sedangkan produksi kina untuk obat, selama ini dilakukan PT. Kimia Farma. Namun menurut sejumlah sumber di PT. Kimia Farma Bandung, karena pasokan kina nasional sendiri kurang mencukupi, membuat produksi pil kina pun menjadi harus disesuaikan dengan suplai kina yang ada.

Sementara itu, upaya meningkatkan produksi kina Indonesia sebenarnya sudah dilakukan. Ini terutama oleh PTPN VIII sejak tahun 1994, yang juga merupakan produsen kina terbesar nasional di samping teh. Langkah yang dilakukan, di antaranya peremajaan kebun, rehabilitasi kebun-kebun yang usia tanaman kinanya sudah tua.

Di samping itu, juga dilakukan penyulaman sehingga jumlah populasi tanaman per hektare sesuai standar. Perbaikan pun dilakukan untuk pola panen, dengan menyempurnakan sistem stumping di seluruh areal, menjadi sistem selective stumping untuk memperkecil kematian tanaman.

Kepala Dinas Perkebunan Jabar, Mulyadi Sukandar menyebutkan, peluang pengembangan tanaman kina di Indonesia, khususnya di Jabar cukup prospektif. Pertimbangannya, Indonesia memiliki sumber plasma nutfah yang kandungan kinina sulfat (bahan untuk pil kina) di atas 14 persen, sedangkan negara lain hanya 7-8 persen.

“Prospek pengembangan areal tanaman kina, masih berpotensi dilakukan di Kab. Bandung, Garut, Subang, Sukabumi, dan Majalengka. Pada tahun ini, Dinas Perkebunan Jabar, PTPN VIII, PT SIL, sedang menyusun perencanaan perluasan tanaman kina, baik di lahan kosong perkebunan besar serta rakyat,” katanya.

Walau belum bersedia menyebutkan jumlah areal dan tempat yang dijadikan projek perluasan, namun Mulyadi Sukandar mengatakan, penanaman kembali tanaman kina juga dikaitkan dengan gerakan rehabilitasi lahan kritis. Pada sisi lain, penanaman kina sebagai upaya meningkatkan suplai bahan obat juga sebagai konservasi lingkungan hidup.

Menurut Mulyadi Sukandar, walau tanaman kina sedang tak menjadi unggulan produk perkebunan di Jabar, namun prospeknya tetap baik jika dikaitkan dengan jumlah permintaan dibandingkan suplai yang ada. Peluang ini, setidaknya dapat menjadikan motivasi di antara berbagai produsen kina nasional, baik usaha perkebunan maupun industrinya untuk lebih seiring sejalan. Setidaknya, agar memperoleh usaha lebih baik di pasar internasional berikut suplai untuk kina pengobatan malaria. (Kodar Solihat/”PR”) ***

Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat 7 April 2006

12 responses to “Andai Junghuhn Tahu Nasib Kina Indonesia…

  1. Kali ini posting sedikit ngak nyambung, soalnya Lembang ada di utara bukan di selatan Bandung, tapi ada sedikit hubungan culture Lembang dengan Pangalengan, sama-sama berhawa dingin, penghasil komoditas sayuran, terdapat perkebunan teh dan kina. Ada hal unik di sini, dua tokoh yang sama-sama berkarya di daerah Priangan, KAR Bosscha salah satu karya nya yaitu Observatori peneropongan bintang terletak di Lembang tetapi beliau dimakamkan di Pangalengan, sedangkan Franz Wilhelm Junghuhn buah karya nya membuka perkebunan kina di Pangalengan, tapi beliau dimakamkan di Lembang.
    Sampai saat ini masih ada sedikit peninggalan Franz Wilhelm Junghuhn di Pangalengan, walaupun tidak terlalu banyak, masih ada beberapa perkebunan kina yang merupakan sampingan dari perkebunan teh seperti Perkebunan Kertamanah dan Perkebunan Pasir Malang atau sebagai perkebunan utama seperti di Perkebunan Kina Cibeureum Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung.
    Di dekat rumah almarhum nenek di kawasan Perkebunan Kertamanah, ada sebuah bangunan besar mirip Pabrik Kina, setelah aku tanya ke bapak ternyata bangunan itu hanya digunakan untuk tempat penampungan saja, adapun peroses pengolahan nya dilakukan di Pabrik Kina di JL. Cicendo Bandung. Tapi apakah pabrik tersebut masih beroperasi atau tidak belum aku ketahui, selama tinggal, sekolah dan kuliah di Bandung belum pernah melihat aktivitas di pabrik itu.
    Jika ditanya khasiat nya, kupikir sangat murajarab banget buat mengobati penyakit malaria, pernah ada kerabatku yang hendak ditugaskan di daerah papua, disarankan untuk meminum air seduhan kulit kina, karena keringat yang dihasilkan mengadung aroma yang tidak disukai nyamuk. BIla si nyamuk sampai menggit, bakalan mati di kulit kita.
    Karena yang digunakan untuk obat hanya kulitnya saja, kulit kina tersebut dikelupaskan dari batang pohonnya, proses tersebut harus menggunakan sarung tangan, karena bisa membuat gatal-gatal di kulit (Mun basa sunda mah disebut na merang). Tentunya akan mennyisakan batang pohon kina tanpa kulit, biasanya digunakan untuk hiasan seperti meja, kursi bahkan ada sebuah rumah di daerah Cibeureum yang dinding nya terbuat dari susunan batang pohon kina. Setelah dibuat hiasan itu, dengan sedikit polesan pernis, bisa menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi (kali aja ada investor yg tertarik.. hubungi aku ya).
    Oh iya, bila ada rekan-rekan memiliki kesempatan pergi Pangalengan, disana ada rumah sakit dan perkebunan yang namanya Pasir Junghuhn, nama itu diberikan sebagai pengharagan kepada kepada Franz Wilhelm Junghuhn atas jasa beliau membuka perkebunan kina di Tatar Priangan. Tempat nya tidak jauh dari lokasi pemandian air panas Cibolang (Kurang lebih 5 Km). Jalan menuju ke sana agak sedikit menanjak melewati perkebunan teh Purbasari, bila sudah sampai di lokasi pemandangan nya adalah sisi Gunung Wayang Windu sebelah Selatan.

  2. Ping-balik: eS… De… eS… Be… « Bandung Selatan Dalam Kenangan

  3. Ping-balik: Wadjah Pangalengan Tempoe Doeloe (3) « Catatan Ide

  4. ok, yang jelas daarab tinggi bandung utara n selatan ini buatku sungguh mengasyikkan buat jalan2 nyoba mobil vw tua

  5. Saya jadi penasaran sama kang Omdien nih.. kayaknya soal pangalengan, setidaknya history-nya itu kok detail banget. Kang Omdien bertugas dimana? duli kuliahnya di mana? dapat pengetahuan / cerita-nya dari mana? maaf ya jadi bawel begini.
    Terus kang, kira-kira mesti ngapain ya buat menyelamatkan peninggalan ke dua tokoh tersebut? Jadi gatal dan ga geunah membacanya. Kayaknya mesti do something nih.. ayo kang

  6. Semasa jaman pergerakan kemerdekaan, nampaknya sangat ditanamkan rasa tidak suka kepada penjajah hindia belanda, padahal selama 300 tahun menduduki nusantara, sudah banyak investasi yang dikeluarkan oleh mereka untuk membangun infrastruktur di negeri ini. Namun demikian kita juga tidak boleh lupa dengan kekejaman yang pernah mereka lakukan kepada leluhur kita. Memang seharusnya kita berusaha untuk selalu bersikap adil, karena adil itu lebih kepada taqwa.

    Kami pernah berkunjung ke Wageningen University di Belanda (2008). Hiasan-hiasan dan lukisan-lukisan di dinding gedung universitas mereka banyak yang menggambarkan potret-potret Indonesia masa lalu (sebelum jaman kemerdekaan). Bahkan ada pigura kaca besar yang berisi beberapa tokoh wayang kulit jawa. Ya, mereka masih menyimpan kenangan dan mewariskan kenangan itu kepada anak cucu-nya.

  7. Terima kasih atas perhatiannya, terhadap perkembangan perkinaan Indonesia, hanya saya tambahkan informasi bahwa sampai saat ini PABRIK KINA masih beroperasi, hanya saja kuantumnya relatif kecil bila di banding tahun-tahun sebelumnya.
    Tetapi betul apabila Yunhun masih hidup mungkin akan merasa segih melihat kondisi saat ini, karena Kulit Kina yang dihasilkan oleh Perkebunan di Indonesia tidak sesuai dengan kebutuhan produksi Garam Kinanya sehingga kita harus mengimpor kulit kina dari Negeri Orang (padahal kita negara Agraris)

    terima kasih, lanjutkan kepedulian terhadap Perkinaan Indonesia

  8. Terima kasih atas postingannya.. tulisan ini memberi semangat ketika kita lelah.. banyak hal yang kita buat untuk bangsa ini.. seperti mereka yang telah mendahului

  9. Numpang baca, banyak informasi mengenai kina yang didapat. Hormat bagi mendiang Mr Junghuhn atas jasa-jasanya.
    Terima kasih

  10. Ping-balik: Perkebunan Kina Tempo Doeloe di Bandung Selatan | Sepanjang Jalan Kehidupan

  11. Denny N Soehardjadinata

    Ada sedikit tambahan di Cinyiruan ada tanaman kina pertama konon ditanam sekitar Th.1830 an, s.d tahun 1980 tanaman tua itu masih berdiri sekitar 2-3 pohon, bahkan konon pernah dipagari rantai, kalo sekarang mungkin sudah tidak ada, apalagi pagar rantai besinya, jangankan ada dikebun, pagar rumah juga dicabut orang…….!! Hixhixhix

  12. Ping-balik: Ayo wisata ke Pangelangan, Asik dan Seru !! | RinaRahmawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s