Mereguk Kesegaran Alam di Pangalengan

Menyusuri kawasan wisata Pangalengan di Kabupaten Bandung, berarti pula menyusuri jajaran perkebunan teh. Para pedagang aneka produk olahan peternakan sapi, seperti permen susu caramel, dodol, krupuk, dan panganan serba susu lainnya yang berjejer di sepanjang jalan pusat kota kecamatan tersebut, tak akan luput pula dari pandangan kita. Tak ketinggalan hasil panen sayur mayur yang dijajakan, seperti wortel, kubis, dll., hingga sayuran yang sudah diolah, seperti kripik kentang, sayang untuk dilewatkan.

Menikmati semua itu, sungguh menyenangkan. Dan Pangalengan masih menyimpan sisi lain yang tak kalah bagusnya. Salah satunya adalah menjejaki jajaran pembangkit listrik tenaga air yang ada di sana, seperti PLTA Plengan dan Lamajan. Keduanya merupakan peninggalan Belanda yang sampai kini masih beroperasi. Jejak-jejak yang mengundang imajinasi masa lampau.

PLTA Plengan terletak sekira 5 km dari kota kecamatan Pangalengan, dengan dikelilingi tebing-tebing bukit di sekitarnya, cukup adem dan memanjakan pandang. Tapi dari sinilah tenaga listrik sekira 6,75 MW dihasilkan. Sebuah bangunan tua menaungi lima mesin turbin yang mengolah tenaga air menjadi listrik.

Tak jauh dari bangunan itu, dua pipa berdampingan menjulur dari ketinggian dengan bertopang pada kemiringan lereng. Dari pipa-pipa yang dicat hijau itu, meluncur air dengan derasnya. Di ujung bawah, aliran itu dipecah ke lima saluran pipa yang masing-masing menuju turbin.

Melihat pipa-pipa sepanjang 206 meter itu dari bawah, benar-benar mengagumkan. Terutama membayangkan saat-saat membangunnya dulu. Diameter pipa hampir mencapai 1,2 meter. Sekadar diketahui, PLTA itu beroperasi sejak tahun 1922.

Air yang dipergunakan PLTA Plengan berasal dari tiga sumber, yakni Sungai Cisangkuy, Cisarua, dan Situ Cileunca yang berjarak 3 km dari PLTA tersebut. Untuk menuju ke ujung pipa atas, susunan tangga yang berjumlah sampai ratusan, tersedia di sisinya. Untuk kebugaran, rasanya tak ada salahnya mencoba menaiki dan menuruni tangga itu.

Panorama tak kalah mengagumkan tampak pula di sekitar kawasan PLTA Lamajan. Jaraknya bisa dibilang tak terlalu jauh dari PLTA Plengan. Toh keduanya berada pada blok yang sama di sekitar Gunung Tilu. Yang membuat atmosfir di sana lebih indah karena kecuraman pipanya, yang memiliki diameter 1,5 meter, sedangkan panjangnya mencapai 500 meter. Dari jalan raya Bandung-Pangalengan, dua pipa berwarna kuning ini terlihat jelas. Belum lagi anak tangganya yang berada di sisinya yang berjumlah ratusan lebih. PLTA Lamajan memiliki tiga turbin masing-masing menghasilkan listrik sebesar 6,525 MW beroperasi sejak 1925.

Pipa-pipa dan lingkungan sekitarnya benar-benar terlihat menyegarkan pandangan, terutama jika dilihat dari kawasan stasiun lori di kawasan PLTA tersebut. Lori ini pun menjadi daya tarik sendiri. Menggunakan mesin berlabel Figee Haarlem Holland 1924, keretanya mampu menampung hingga 10 penumpang dan beban mencapai tonan. Untuk menggerakannya, lori ditarik secara naik turun dengan sling baja sepanjan g 280 meter. Lori ini tidak berjalan datar, melainkan melewati trek yang curam sampai kemiringan antara 70-80 derajat. Trek ini menghubungkan ke ruang turbin yang berada di ujung pipa itu. Karenanya, dibutuhkan nyali yang besar untuk menaikinya. Yang jelas, sensasinya sungguh memompa adrenalin.

Kesenangan belum usai. Dari Lamajan, pandangan luas memungkinan kita secara leluasa menyisir panorama Kota Bandung dan sekitarnya dari arah selatan. Titik-titik bangunan, benar-benar tersusun padat. Saat malam hari, jika cuaca cerah, semua itu tak akan terlihat karena digantikan kerlap-kerlip lampu yang menawan. Satu yang terlihat gagah, Gunung Tangkuban Parahu sebagai latar kota itu.

Untuk mengakses semua keindahan itu, memang harus ada izin, karena PLTA-PLTA itu berada di bawah naungan Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Saguling PT Indonesia Power. Meski demikian, rasanya untuk menikmati sesuatu yang langka, itu bukanlah persoalan. Toh, efek kesegaran yang muncul tidak dapat diukur nilainya. Pasalnya, masa lalu memang kerap pantas untuk dikenang seperti halnya Plengan dan Lamajan dengan sisi lainnya dari sekadar pembangkit listrik tenaga air. (rangga tohjaya)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/02/1002.htm
pltalamajan.jpg pltaplengan.jpg

PLTA Plengan PLTA Lamajan

4 responses to “Mereguk Kesegaran Alam di Pangalengan

  1. Kenapa redaksi Pikiran Rakyat tidak memberi judul artikel ini “Jalan-jalan ke berbagai PLTA di Pangalengan” ? karena tema judul dengan content artikel kurang singkron, but never mind, apalah arti sebuah “judul” (eh.. nama denk).
    Let’s remain about PLTA Plengan dan Lamajan. Jaraknya kurang lebih 5 KM dari kota Kecamatan Pangalengan ke arah Banjaran, keduanya berada di lereng Gunung Tilu, PLTA Plengan dapat dilihat dengan jelas dari jalan raya menuju arah Pangalengan. Selain sebagai sumber listrik, kedua PLTA tersebet digunakan tempat wisata alam yang elok, seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan di Bandung Society for Heritage Conservation (lihat Bandung Heritage)
    PLTA Lamajan terletak di Desa Lamajang Kecamatan Pangalengan, di sisi sebelah utara Gunung Tilu, saya sendiri belum pernah ke puncak tempat kolam penampungan air penggerak turbin, baru melihat di kejauhan pada waktu berkunjung ke kampung adik ku (Pak Ading). yang terlihat di puncak ada semacam bangunan yang kata taman ku, sekarang bangunan itu dijadikan sekolah taman kanak-kanak.

    Special Thanks To Google, dengan tool GoogleEarth nya kita dapat melihat tampak atas dari kedua PLTA tersebut.

  2. Tak pernah saya browsing tentang Pangalengan. Kota Bandung dan Pangalengan menyimpan kenangan indah,pahit,dan paling ingin saya lupakan.. Namun juga ingin kembali menyelami masa-masa itu.
    Bandung, kampus ITB, Pangalengan, sejarah kolonial, adalah masa lalu yg menghantui saya. Namun tulisan anda membuat saya ingin kembali ke sana..
    Salam kenal
    Ashidik

  3. Ass. Bapak
    Saya mau nanya untuk menghasilkan tenaga listrik 3000 watt atau untuk 1 buah rumah, yang dibutuhkan :

    Turbin atau kumparan yang berapa?
    Besar air berapa apakah cukup dg paralon ukuran 1″ atau lebih
    dan dibutuhkan dg ketinggian berapa serta kemiringan berapa supa bisa menghasilkan energi listrik

    Terimaksih Banyak

    Yasri

  4. kalau bisa ditambahkan mengenai siatem kerja nya serta gambar nya lengkap..
    terima kasih,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s