Bedil Lodong

Menurut sebagian orang mungkin judul tulisan ini agak aneh, atau menurut sebagian orang Sunda judul ini agak sedikit “Katrok” (gaya si Tukul🙂 ). Lodong merupakan ’meriam’ tradisional yang terbuat dari bambu, zaman dulu lodong dijadikan mainan saat bulan puasa, terbuat dari bambu atau tabung besi yang bagian belakang nya ditutup, panjang nya sekitar 1,5 Meter mirip senjata Bazoka, makanya disebut “Bedil Lodong”. Di dekat sisi lubang yang ditutup (atau di las jika terbuat dari pipa besi) diberi lubang kecil yang berfungsi untuk menyulut meriam tersebut dengan api.

Cara memainkannya, batang lodong disimpan dalam posisi miring, pastikan dudukan lodong stabil sebab jika bunyi lodong sangat keras bisa menyeret lodong tersebut hinga terpental karena dorongan energi ledakan yang sangat tinggi (kadang sampai pecah berkeping-keping), masukan sedikit air dari lubang terbuka dan sepotong karbit, tutup sisi lubang terbuka dan lubang kecil di dasar lodong dengan gumpalan kain. Setelah cukup waktu (kira-kira sampai karbit habis) buka penutup lubag kecil lodong dan dekatkan api dengan menggunakan obor di lubang itu untuk menyalakan meriam.

Jika timer nya pas, bunyi lodong akan sangat keras. “DUARRRR….!!!!” sampai-sampai tetangga di sekitar rumah ku kaget sambil berteriak “Goblog siah… saha eta nu ngahurungkeun lodong“. Yang merasa terganggu bergegas keluar, melirik ke kanan dan kiri, tolak pinggang dekat rumah nya sembari memaki-maki anak-anak yang sudah berlaliran mencari tempat yang aman untuk menghindari omelan tetangga🙂 .

Lodong ini biasa dimainkan oleh anak remaja, orang tua atau anak-anak. Tapi jika dimainkan anak-anak perlu didampingi oleh orang dewasa karena jika kurang terampil wajah si anak bisa clemong hitam akibat tertembak lodong nya sendiri.

Terkadang lodong dijadikan senjata perang-perangan antara 2 kelompok pada jarak tertentu lengkap dengan gundukan tanah sebagai bentengnya, anak-anak biasa menggunkan amunisi sepatu bekas atau wadah sabun, yang disimpan di moncong Lodong. Sehingga bila pertempuran dimulai, angkasa penuh dengan sapatu butut yang melayang-lanyang mencari sasaran.

Zaman sekarang jarang ditemukan lodong atau bahkan mungkin sudah tidak ada. Menurut penuturan Mang OhleKalau bedil lodong mah, sigana geus teu arapaleun deui barudak teh. Tong boro di kota, di kampung-kampung ge nu nyeungeut bedil lodong mah geus langka pisan.

20:30 Di pinggiran Jakarta

8 responses to “Bedil Lodong

  1. baru tau ada mainan ginian…kalau ada gambarnya saya lebih ngeh kali ya…mohon dipasang kalau punya fotonya mas..makasiii

  2. Vania

    ini mainan zaman baheula…
    sayang ngak ada photo nya, aku udah coba browsing tapi belum menemukan photo nya.
    ntar bulan puasa Insya Alloh aku pulang kampung, jika ada yg mainin bakalan diphoto dah…

  3. Ping-balik: Welkomen Ramadhan « Catatan Ide

  4. bisa tolong jelaskan bagaimana cara membuat lodong yang tdak berbahaya???

    kirim dong cr buatnya ke syraru@yahoo.co.id

  5. kalau di makassar namanya meriam lappo’
    kami biasanya masukkan “minyak tanah”, kecuali untuk tanding barulah di masukkan calcium carbida. Sebab berbahaya karena jika letusan terlalu keras akan mengakibatkan bambu pecah dan akan terpercik ke muka atau badan sehingga bisa terbakar….

  6. wkwkwkwk…jadi inget bulan puasa..dimarahin..sama tetangga..wkwkwk
    tapi asyik…

  7. di jawa ada yang menyebut mercon bumbung (petasan bambu), ada juga zlung (sesuai bunyinya)..

  8. ajiiib nih lodong,,,dicarekan eung ku pa haji nyeneut na g…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s