“Election” Kampungan

Pemilihan Umum telah memanggil kita…

slurh rakyat menyambut gembira…

Hak Demokrasi Pancasila…

Hikmah Indonesia Merdeka…

Pilihlah wakilmu yang dpat dipercaya…

Pengemban AMPERA yang setia…

Dibawah Undang-undang dasar ’45 …

Kita menuju ke Pemilihan Umum …

General Election, atau pemilihan umum di Indonesia dimulai sejak tahun 1955, diikuti oleh 55 kontestan yang bertarung memperebutkan simpati pemilih, tercatat sebagai Pemilihan umum sukses tanpa perselisahan dan pertikaian antar pendukung partai, Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia, Masyumi, Nahdlatul Ulama, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Suasana Pemilu yang aku alami adalah pemilu zaman orde baru yaitu Mei 1982, April 1987, Juni 1992, Mei 1997. Didikuti oleh 3 kontestan, partai kuning, hijau dan merah. Sedangkan pertama kali diperkenankan untuk mecoblos adalah pemilu tahun 1992. Bapak ku langganan menjadi ketua KPPS selama Pemilu Orde Baru, selain beliau dipercayakan oleh warga sekitar sebagai Ketua RT, waktu itu pegawai negeri masih dibolehkan menjadi ketua dan anggota KPPS, sampai “di tidak bolehkan” pada pemilu era Reformasi dengan pertimbangan untuk menghindari panitia berpihak kepada partai-partai tertentu.

Diberi judul “Election” Kampungan karena bisa berarti Pemilihan umum yang dilaksanakan di kampung-kampung, bisa juga karena Typical Pemilu nya sendiri yang benar-benar “Kampungan“. Dengan jargon “LUBER” (Langsung Umum Bebas dan Rahasia) pemilih tidak bebas memilih, dan kerahasiahan bukan merupakan suatu rahasia. Sudah menjadi rahasia umum setaip pegawai negeri sipil, crew kelurahan, pegawai dan staff perkebunan diharuskan oleh pimpinan nya mencoblos salah satu kontestan terbesar saat itu, bila tidak jangan harap bisa bertahan dengan status kepegawaian nya. Heran nya panitia KPPS bisa tahu si anu nyoblos yang ini dan si anu nyoblos yang itu!. Alhasil, Partai berwarana kuning lah yang menang sampai jumlah suaranya “LUBER” melebihi jumlah pemilih yang terdaftaršŸ™‚ . Hasil detailnya bisa dilihat disini

Ngak fair memang, namanya juga Election kampungan, hal ini berdampak pada pemerataan pembangunan infrastruktur kampung. Kampung yang pemilihnya 100 % mencoblos partai berwarna kuning, beberapa bulan kemudian jalan setapaknya diaspal, sedangkan yang tidak mencapai 100 %, fasilitas desa nya tidak dilirik sama-sekali oleh penguasa, malah mempertanyakan kepada petinggi kampung mengapa warga nya tidak mutlak memilih partai yang sedang jaya.

Suasana pemilihan umum itu sendiri tidak beda dengan pemilu sekarang, para kontestan berkampanye, berkoar-koar di lapangan terbuka untuk mengiming-imingi calon pemilih dengan janji-janji, memebagi-bagikan atribut partai. Malam hari sebelum pemilihan, rumahku dijaga ketat oleh aparatur RT/RW, hansip berseragam lengkap dengan sejata andalannya (kentongan dan pentungan) untuk menjaga barang logistik pemilu, karena ada kejadian sabotase, pencurian barang logistik pemilu di kampung sebelah, membuat tegang seisi rumah, Alahamdulilah tidak ada kejadian yang tidak diinginkan malam itu. Pagi harinya muncul “serangan fajar“, orang-orang tertentu membawa uang atau beras untuk membujuk pemilih mencoblos partai tertentu.

Suasana tersebut tidak banyak berubah sampai sekarang, paling bedanya sekarang ada pemilihan presiden, gubernur dan bupati langsung selain pemilihan partai. Pola pelaksanaan nya tidak jauh berbeda dengan pemilu era orde baru. Tinggal mencari system yang ideal dalam pelaksanaan nya, menurut kacamata awam seperti aku ini, para kontestan ada baiknya menawarkan suatu konsep pembangunan, pemerataan, antisipasi bencana atau apapun yang dirasa baik untuk kepentingan masyarakat dan minta dukungan pemilih untuk melaksanakan programnya itu, karena sehebat apapun konsep tanpa pelaksanaan dan dukungan masyarakat adalah NOL Besar.

Bila suasana pemilu masih berlangsung seperti sekarang, aku khawatir pemilih makin antipati, bahkan cenderung golput, Terakhir dalam Pilkada DKI Jakarta, Pak Martuji bilang “Saya warga Jakarta, tapi saya golput, ngak pengaruh siapapun yang terpilih, yang penting ikut liburnya aja”, miris aku mendengar kalimat itušŸ˜¦ .

One response to ““Election” Kampungan

  1. punya lagunya ga ya? atau tau tempat dunlot nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s