Legenda Si Kuda Besi

Waas upami niggal tilas jalan kareta, sok hoyong balik deu ka zaman baheula.

Spoorbrug tussen Soreang en Tjiwidej ten zuidwesten van Bandoeng (KITLV.NL)

Kereta api rute Bandung-Ciwidey merupakan jasa angkutan masal pertama yang peranah ada di kawasan Bandung Selatan, berfungsi untuk mengangkut barang-barang komiditi perkebunan. Jalur ini dimulai dari Stasion Cikudapteuh, Pasar Kordon Buahbatu, Pamengpeuk, Banjaran, Soreang dan berakhir di Ciwidey. Menurut Kuncen Bandung, Bapak Haryoto Kunto dalam buku nya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Penulis : Haryoto Kunto, PT. Granesia. Cetakan Ke. I April 1984, Cetakan Ke II Mei 1984 dan Cetakan Ke III April 1985) jalur ini dibangun 2 tahap, tahun 1918 Bandung-Kopo dan diteruskan ke Ciwidey pada tahun 1921 oleh Perusahaan Kereta Api Negara (“Staats Spoorwegen”/ “SS”) untuk keperluan :

  1. Alat angkutan hasil produksi perkebunan Wilayah Priangan, yang kala itu menjadi barang komoditi ekspor yang laku keras di pasaran dunia.
  2. Sarana pendukung dalam rencana pemekaran wilayah Gemeente Bandung di tahun 1919.

Dengan mundurnya permintaan hasil perkebunan Priangan di pasaran dunia, maka sedikit demi sedikit jalur K.A. itu tidak lagi dipergunakan. Apalagi setelah kendaraan bermotor
truk yang lebih fleksibel mengangkut muatan “door to door”, mulai beroperasi di ka wasan Bandung, maka fungsi K.A. cuma jadi alat angkutan penumpang. Yang nota bene, tidak begitu menguntungkan akhirnya jalur ini di nonaktifkan pada tahun 1975.

Kejayan si Kuda Besi di Jalur Selatan hanya tinggal bekas nya saja, yang sering terlihat adalah jembatan di Dayeuh Kolot, Statisun Banjaran dan jalur rel yang sisi kanan kirinya telah berdiri bangun permanen maupun pemukiman kumuh. Begitu pula jalur antara Banjaran dan Soreang, yang terlihat hanya onggokan rel tua yang tidak terurus dan beberapa jembatan melintasi sungai kecil yang sudah karatan.Teringat cerita ibu, kadang beliau suka bermain ke Ciwidey sekalian berkunjung ke Ua nya di daerah Pasir Jambu, naik kereta dari Stasiun Banjaran sampai Ciwidey, yang paling asyik begitu kereta memasuki jalur menanjak. Begitu pula menurut Pak Eka, guru PMP di SMA tempat aku belajar (SMA 21 Bandung), menurut penuturannya begitu kereta memasuki jalur menanjak, perasaan tegang menghinggapi seluruh penumpang, kereta berjalan perlahan dan kandang berhenti, yang ditakutkan kereta tidak kuat dan mundur lagi🙂 .

Selain itu, banyak penuturan orang-orang yang pernah menikmati jalur kereta Bandung Ciwidey itu, ada yang beranggapan adanya jalaur kereta itu dapat melatih orang tepat waktu, sebab kereta zaman dulu selalu on time, terlambat sedikit maka akan ketinggalan. Ada pula yang mengatakan kereta sebagai tempat wisata, orang orang turun dari pegunungan ke stasion kereta membawa bekal untuk botram hanya untuk melihat hulu kareta 🙂

Kenangan Wartawan Suparman dalam artikelnya di Harian Pikiran Rakyat mengatakan perjalanan menggunakan kereta api dari Bandung – Ciwidey, naik dari Stasiun Cikudapateuh Kosambi pagi hari, kira-kira pukul 9.00 WIB pagi. Saat itu di Stasiun Cikudapateuh belum seramai sekarang. Sambil menunggu kereta api ke Ciwidey, kita bisa melihat beberapa orang yang tengah asyik main judi kupluk (dadu) atau nonton celoteh tukang obat yang menawarkan obat koreng atau gelang akar bahar dan penumbuh kumis. Belum ada yang menawarkan obat kuat lelaki sebagaimana sering ditawarkan tukang obat zaman sekarang. Kereta api dengan dua rangkai gerbong penumpang, dari stasiun Cikudapateuh melaju menelusuri wilayah Cibangkong, Kordon, Pameungpeuk, Banjaran, Soreang yang pada kiri – kanan bantalan rel sebagian besar masih berupa pesawahan dan balong (kolam). Di stasiun Kordon (Buahbatu), Banjaran dan Soreang, kereta api berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang.Perjalanan yang nyaman dan bisa dinikmati, karena laju kereta api tidak terlalu cepat. Bahkan mungkin lalaunan dirasakan selepas stasiun Soreang menuju Ciwidey, karena tanjakan yang cukup terjal. Pada alur perjalanan antara Soreang – Pasir Jambu sampai Ciwidey, beberapa panumpang yang naik dari galengan (bantaran) sawah. Para penumpang yang naik dari bantaran sawah tersebut adalah petani yang usai menggarap lahan pertanian. Mereka naik KA dengan membawa pacul, arit serta mengenakan baju kerja yang masih kotor terlumuri lumpur sawah. Bahkan di antara mereka ada yang membawa kambing dan sekarung rumput. Kambing, rumput dan manusia sama-sama menikmati perjalanan kereta api Bandung – Ciwidey. Berbagai aroma bau bisa terhirup dalam perjalanan kereta api tsb, selain mendengar obrolan “ngaler – ngidul” para penumpang yang duduk pada kursi memanjang seperti pada angkutan kota. Pada musim liburan, sebagian besar penumpangnya adalah pelajar yang akan berliburan (berkemah) di kawasan Situ Patengan.

Jika dapat kesempatan lagi boleh dong merasakan naik kereta jalur selatan ini, walaupun tidak menggunakan kereta zaman dulu seperti yang sekarang masih terdapat di Ambarawa. Bisa bernostalgia menyusuri rel yang pernah di lalui si gombar. Belum lama ini ada selentingan rencana dibukanya kebali jalur kereta ini. Semoga ini bisa terlaksana dengan tujuan untuk memperbaiki sistem transoportasi darat sekarang yang semerawut.

21 responses to “Legenda Si Kuda Besi

  1. Bos sori gak komen, tapi thx info yg kuambil. Dan mohon info dimana keberadaan si gombar saat ini.
    makasih banyak bos

  2. @chanang
    Menurut Pak Kunto (almarhum) si Gombar udah masuk museum di Belanda, jadi klo mo lihat mesti ngumpulin duit buat beli tiket KLM🙂

  3. ceritanya menarik banget mas ….
    kebetulan jd pengen tau kondisi jalurnya saat ini …🙂
    salam kenal ya …

  4. @d3pe
    salam kenal juga, makasih dah mampir kesini. Iseng aja mas (klo bisa sih) jalan kaki susuri rel kereta, asyik kali ya…

  5. abdi bumi di dayeuhkolot mun ningal jembatan tilas
    kapungkur,abdi msh sok saredih ningal jembatan tilas kareta tipungkur teu di urus ku pamarentah.!!pesen ka pamarentah panguguskeun harta paninggalan jaman baheula.

  6. Trims catatannya, sy slh satu pemerhati dan pecinta (baca=maniak) sejarah KA di Indonesia, brsm teman2 sehobi sdh beberapa kali napak tilas di jalur ini, jalan kaki, nyebrang jembatan rapuhnya (hiii..!!), lihat bekas2 stasiun, rel2 tua dgn weselnya, dll. Foto2 kondisi update ada tuh!
    Wah, lebar pisan euy….. iraha nya aya perhatian ti pamarentah?? nu aya mah Studi-na we sagunung, teu aya kalanjutanana.
    Juga di antara Kordon – Bojongkoneng sdh padat penduduk di jalur rel, juga ada 2 proyek perumahan elite (baca=mewah) yg seenaknya potong jalur ini. Padahal di bwh jln tol bh.batu sdh dipersiapkan jalurnya dgn membuat underpass persis di bekas jalur relnya jika nanti sewaktu2 bakal dibuka lagi, tapi malah jadi tempat mangkal tukang dagang………..
    Wassalam,
    Intrias.

  7. Tambahan info:
    Si Gombar, dikenal dlm istilah perkeretaapian dgn lokomotif uap serie DD52, lok terbesar dlm sejarah KA Indonesia. Kondisi: punah dirucat = dipotong2 dijadikan besitua (loakan/dikilo).
    Sedangkan yg ada di museum Belanda di Amsterdam adalah serie CC50, kecilan dikit; di Indonesia juga ada sodaranya, yaitu di museum transportasi TMII dan museum KA Ambarawa.
    Wassalam,
    Intrias.

  8. wah saya sering menyusuri rel mati seperti Banjar-Pangandaran-Cijulang, Tanjungsari-jatinangor, cibatu-garut-cikajang dll. Tapi kalau jalur ini belum euy….ceritanya menarik sekali

  9. kapan menyusuri rel ini ya???? (web yang benar adalah ini asepnya ndak pake tanda _)

  10. @intrias
    punya situs na ngak boss?

  11. Wah teu gaduh kang,
    Tapi upami bade ningal / gabung maillist mangga wae langsir ka keretapi_sejarah_dan_kenangan@yahoogroups.com, seueur dongeng atanapi foto2na oge.

    Wassalam,
    Intrias (rencangna asep suherman, he..he..).

  12. Ping-balik: Stasion Banjaran | Selayaknya Sang Karang

  13. Ceritanya boleh juga kang . So’ jd pengen tau kondisinya yang sekarang. Kapan2 kalo mo trekking ajak2 ya…!

  14. waaah koq gak dijelasin tentang loko DD52 nya joega potona, dan juga CC50 yang di TMII itu serinya CC5001 dan CC5022 ada di musium KA Utrecht, serta CC5020 adenye di Ambarawa,
    tooos ah…….

  15. saya rasa mungkin saya hapal jalur ini, rumah saya memeng di cibangkong lor dan waktu kecil masih ada sisa stasiun cibangkong, sekarang tinggal jejak jalan kereta yang dipenuhi rumah dan sisa kejayaan masa lampau…….zaman penjajahan saja KA sangat berjaya, sekarang Zaman MERDEKA koq sisa jalan kereta api pada menghilang tergerus zaman, bukannya dibuka jalur baru malah menghilangkan sisa yang ada? apakah kemerdekaan dan bangsa ini mau maju?
    sedangkan KA PARAHYANGAN saja sebagai icon Bandung mau dihapuskan? betapa sedihnya saya terhadap bangsa ini……..
    PEMERINTAH harus lebih sensitif terhadap kebutuhan masyarakat bukan nilai ekonomisnya saja!!!!

  16. aku bagga jadi indonesia merdeka sampay mati

  17. aku bangga jadi indonesia merdeka

  18. Ping-balik: Stasiun Banjaran «

  19. Sebenarnya jalur kereta api yang dinonaktifkan itu bukan karena merugi,tapi pada zaman orba sengaja dinonaktifkan agar semua anaknya mendapatkan proyek pembuatan jalan dan juga selama menterinya bukan orang railfans jalur lain tinggal menunggu wassalam aja. Boro-boro membuat,merawat saja tidak bisa,Indonesia hanya bisa merusak,menjarah,menutup tapi tidak bisa membuat.

  20. Mantap Gan informasinya🙂
    Moga aja di tahun 2014 ini,jalur-jalur KA non aktif dan bersejarah di DAOP 2 Bandung bisa di aktifkan kembali,meskipun mungkin akan memakan biaya / dana yang besar.Jalur-jalur Kereta Api non aktif di DAOP 2 Bandung :
    1.Jalur KA Rancaekek – Tanjungsari.
    2.Jalur KA Cibatu (Garut) – Cikajang.
    3.Jalur KA Banjar – Cijulang.
    4.Jalur KA Bandung – Ciwidey.
    5.Jalur KA Padalarang – Cianjur – Sukabumi.

  21. *Ralat :
    Jalur KA Padalarang – Cianjur masih aktif dan masih di lalui KA Lokal Cianjuran (KA Argo Peuyeum) relasi Padalarang – Cianjur pp.Akan tetapi,akhir bulan Agustus 2012 lalu,KA tersebut berhenti beroperasi karena Lokomotif jenis BB yang di pakai mengalami kerusakan pada mesin dan ada beberapa titik yang mengalami longsor.Tetapi,jalur tersebut sekarang sudah mengalami perbaikan,hanya saja KA yang melayani belum beroperasi kembali sampai sekarang.
    Jalur KA Padalarang – Cianjur – Sukabumi masih menggunakan rel tipe R33,tetapi ada juga sebagian yang sudah memakai R54.Bantalan rel nya pun masih memakai bantalan Kayu dan Besi yang kondisinya sangat memprihatinkan,sistem persinyalannya pun masih mekanik.
    Sampai saat ini,jalur KA Padalarang – Cianjur masih di non aktifkan,meskipun beberapa waktu lalu ada percobaan Lokomotif jenis CC dan pengecekan / pemeriksaan jalur oleh Pihak PT.KAI DAOP 2 Bandung dan Pihak PT.KAI DAOP 1 Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s