eS… De… eS… Be…

Konsep halal dan haram dari dulu memang sudah dibuat bias atau baur, Sekitar pertengahan 80-an muncul program PORKAS (ada yang mengatakan berasal dari kata forecast yang artinya perkiraan), jika tidak salah merupakan tebak-tebakan kelompok hurup yang keluar setiap minggu, kemudian muncul SDSB, Sumbangan Dana Bakti Sosial Berhadiah, kalau yang ini berupa tebak-tebakan angka yang akan diundi setiap rabu malam jam 23:00. Kedua undian itu legal dan diakui pemerintah. Namanya saja keren, pake ada kata Sumbangan segala, tapi anehnya yang menyumbang orang yang tidak punya uang, berusaha cari uang kesana kemari untuk memebeli kupon undian.

Ada lagi yang tidak resminya, namanya togel atau Singapure, konon katanya jenis undian in berpusat di Singapura, berupa deretan angka yang keluar dari hasil pacuan kuda di Singapura atau Hongkong. Selain itu ada juga togel yang dimodali oleh seorang bandar dengan menggunakan angka hasil dari undian SDSB, lazim disebut kupon putih atau kupon liar.

Saat itu munculah istilah-istilah untuk SDSB ini, diantaranya :

Ngarumus, menghitung angka dengan rumus-rumus tertentu yang hasilnya merupakan perkiraan nomor atau angka yang akan keluar.

dimistik, aku ngak tau apa arti tepat nya, yang jelas merupakan sebuah rumus untuk penghitungan angka.

2 angka, 3 angka, 4 angka dst, merupakan jumlah digit yang akan dipasang dalam undian, semakin banyak jumlah digitnya semakin besar jumlah uang yang didapat bila kena.

misleuk, angka mati yang kemungkinan tidak akan keluar, masih banyak istilah yang aku tidak ingat lagi.

Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang iseng berbisnis dengan mengeluarkan nomor setan atau nomor perkiran yang akan keluar, biasa nya dijual dipasar, terminal atau di muat di koran lokal berupa coretan angka-angka yang tidak jelas, lebih mirip kaligrafi, pembeli dituntut untuk mengartikan coretan tersebut menjadi sederetan angka yang akan keluar.

Beberapa kejadian konyol pun merebak saat itu, anak kecil, dan orang gila ditanyain “Ujang.. nomer sabaraha kira-kira nu bakal kaluar engke peuting?” tentu saja anak kecil dan orang gila menjawab dengan sepontan, diluar benar atau tidak nya nomor yang diucapkan (Ngan jelema gelo nu nanya jelema gelo🙂 )

Sebagian orang mendatangi tempat-tempat kramat atau dukun yang bisa meramalkan nomor yang akan keluar seperti banyaknya orang yang meminta wangsit kode angka judi dari “Embah Junghuhn”, atau kejadian yang dialami Diman sepupuku, dia sengaja bermalam di kuburan Taman Makam Pahlawan Ciwidara untuk mencari wangsit, tapi bukannya nomor yang didapat, malah didatangi hantu dengan kepala penuh dengan mata, Hiii… seram.. lari deh tunggang langgang. Ada lagi orang yang menyepi di kaki Gunung Wayang Windu, waktu itu masih sepi belum seramai sekarang, eh.. malah didatangi jurig ipis, kata dia mirip difilm kartun jika ada orang kegencet, pipih, bisa berdiri dan berjalan, ada-ada saja…🙂 .

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, orang-orang dengan serius menyimak pengumumuan angka yang keluar di radio, bisanya penyiar mengumumkan satu persatu angka dari bagian depan ke belakang, agar pendengar dibuat tegang, berharap-harap cemas nomor yang dipasang nya keluar. Tiba pada 2 angka terahkhir pendengar semakin tegang “Angka yang berikutnya adalah… Lima” pendengar semakin tegang, “Para pendengar, tibalah saatnya penggundian angaka yang terakhir, dan angka yang keluar adalah!!!” Jreng.. jreng.. jreng… “Saaatuu….!!!!“. Berbagai respon mulai keluar dari tiap pendengar🙂 , ada yang berteriak “keuna Euy….!“, ada yang tertunduk lesu karena nomor nya ngak mirip sama sekali, atau yang lebih parah adalah kekecewaan orang yang hanya berbeda satu angka, “Goblog siah… beda sa angka😦 ” sambil melemparkan kuponnya. Yang pasti, dari sekian kali pasang nomor, akan lebih banyak kalahnya daripada menangnya, Percaya deh…

Begitulah kalau pikiran orang sudah duit oriented, apapaun dia kejar untuk mendapatkan yang satu itu, sementara itu pemerintah mendukung undian ini dibawah naungan almarhum Departemen Sosial, terima kasih kepada Gus Dur yang telah membubarkannya. Setelah banyak di demo oleh berbagai LSM, mengecam adanya SDSB akhirnya pada akhir tahun 80-an undian ini ditiadakan. Jika dilihat dari kaca mata halal-haram, orang awam juga tahu kegiatan itu tidak sesuai dengan Syar’i. Karena dilegalkannya lah yang menjadi salah satu faktor kenapa bangsa ini sekarang tidak mengenal value, miskin nilai, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

One response to “eS… De… eS… Be…

  1. emang aneh ya…. sebagian besar penduduk indonesa muslim tapi kok perjudian kayak gitu sempat dilegalkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s