Perahu Cileunca Tinggal Lima

MEUNTAS, Kang? Hayu atuh sareng mamang. Bade nganggo parahu dayung atanapi mesin? Pami nyalira kieu mah wios we Rp 20.000,00 Etang-etang, borongan (Menyeberang, Kang? Mari, dengan mamang. Mau memakai perahu dayung atau mesin? Jika sendirian, biar Rp 20.000,00. Hitung-hitung borongan)” ujar Ade Rowi (35), menawarkan jasa perahu untuk mengelilingi Situ Cileunca di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan Kab. Bandung, Rabu (5/4).

SEBUAH perahu bertenaga mesin melintas di Situ Cileunca, Kp. Cibuluh Ds. Pulosari Kec. Pangalengan Kab. Bandung, Rabu (5/4). Setiap penumpang yang ingin menikmati keindahan situ ini ditarik bayaran Rp 5.000,00.*HAZMIRULLAH/”PR”

Lalu, Ade “beriklan” soal apa saja kenikmatan yang ada di seberang danau, yakni di sebuah kampung bernama Cibuluh Desa Pulosari. “Biasanya, tempat itu dijadikan arena berkemah. Nggak tahu, orang-orang pada betah aja berkemah di situ. Selain itu, ada perkebunan arbei, strawberry, dan melosa. Harganya bisa rada miring,” ujar Ade mengalihkan topik.

”PR” pun bermaksud membuktikan ucapan si tukang perahu. Perlahan, perahu mungil made in Baleendah itu menjauh dari bibir danau. Woow! Pemandangan indah, serta-merta membentang. Tiga gunung di sekeliling danau segera menampakkan diri dengan penuh jemawa. Gunung Wayang, Gunung Windu, dan Gunung Malabar.

Tak sampai lima belas menit, sampailah perahu itu di seberang. Ade langsung mengajak ”PR” jalan-jalan. Menemui Asep Jabog (50) pemilik kebun arbei dan melosa, serta Emid (50) si empunya kebun strawberry. ”Petualangan” di Situ Cileunca itu berlangsung selama hampir 2 jam.

Sepanjang perjalanan, Ade terus-menerus berbicara. Sampai suatu ketika, ayah 3 anak itu berkisah soal pribadi. Ia mengaku, perahu yang tadi ia dayung bukan miliknya. Lebih dari 10 tahun ini, ia nyalo perahu. ”Dari tarif Rp 20.000,00 itu, saya mah paling dikasih Rp 4.000,00,” tuturnya.

Uang Rp 4 ribu itu, kata dia, bisa jadi merupakan penghasilan pertama dan terakhir baginya, hari itu. Apalagi, akhir-akhir ini, pelancong yang mengunjungi Situ Cileunca terus menunjukkan penurunan.

”Kalau dulu, jumlah perahu dayung yang ada di sini mencapai 80 buah. Sekarang mah cuma tinggal 5 buah. Meskipun hari libur, kelima perahu itu tak semuanya narik (beroperasi),” ucapnya. (Hazmirullah/”PR”)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 06 April 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s