Bergaya Narsis

Kesampaian juga tour ke kawah putih dan situ patenggang, setelah sebelumnya direncanakan tanggal 28 Oktober 2007, akhirnya diundur menjadi 4 November 2007 karena pertimbangan banyak yang tidak akan ikut bila berangkat tanggal 28, ma’lum udah tanggal sepuh🙂 . Sebelumnya perna menjajikan ke fitri bakal naik perahu di danau, sepanjang perjalan anak itu selalu menayakan “mana perahu nya?”.

Walaupun waktunya molor dari yang direncanakan karena bis yang menjemput kesasar (susah bener nyari daerah Kapuk🙂 ) dan macet di daerah ciwidey, gila Bo.. jalan nya kecil, mobilnya gede-gede. Akhirnya tiba juga di kaki gunung Patuha, setelah mendaki gunung dengan mobil omprengan sampailah kami di tempat exotis, surga yang tercecer di kawasan priangan “Kawah Putih“. Kawah Putih terletak di punyak Misteri keindahan danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Ketika itu, Junghuhn mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur. Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Begitu sampai langsung deh, rekan-rekan saling jepret di kawah itu. inilah sebagian gaya narsis yang sempat diabadikan

Setelah itu kami melanjutkan perjalan ke situ patenggang, sebuah danau alami di kawasan perkebunan teh Ranca Bolang peninggalan Sir Edward Kerkhoven.

Tempat nya indah, romantis kata Desi, udaranya sejuk cenderung dingin. Berperahu ria menuju batu cinta, batu yang menurut cerita Batu Cinta merupakan tempat bertemu kembalinya Ki Santang & Dewi Rengganis setelah sekian lama berpisah. Rombongan kami bertingkah aneh sambil berteriak-teriak di tempat itu sebagai pelampiasan atas kejenuhan melakukan aktivitas kerja sehari-hari, tak lupa bergaya narsis disana.

One response to “Bergaya Narsis

  1. ada kalimat yang tidak tersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s