Yuk kita budayakan sikap “Jujur”

Serasa sudah lama tidak menulis, padahal baru minggu kemarin. Nyari ide emang gampang-gampan susah, kadang banyak kadang ngak. Tapi lumayan lah, minimal seminggu sekali ada tulisan baru, atau paling parah update tulisan dan moderasi komentar.

Berawal dari baca artikel di eramuslim berjudul Warung jujur, timbul sedikit inspirasi untuk menulis tentang kata yang satu ini, “Jujur” . Satu kata terdiri dari 5 huruf yang mudah diucapkan tapi dalam aplikasi kehidupan sehari-hari jarang orang menerapkannya. Dalam tulisan itu diceritakan berapa investasi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan swalayan untuk mengontrol ketidak jujuran pelanggannya, di tiap sudut dipasang cctv, mengaji satpan bertubuh kekar dan berwajah sangar (yang terakhir bukan kriteria utama🙂 ).

di perusahaan tempat penulis bekerja, ratusan juta rupiah dikeluarkan untuk membeli alat-alat kemanan seperti cctv, fingerprint untuk acces masuk ruangan, warning alarm, sampai point pengontrol patroli satpam hanya untuk mendapat “Security License”.

Betapa mahalnya nilai sebuah kejujuran. Padahal tahukan anda, seorang panutan umat muslim sedunia. Muhammad SAW meletakan kejujuran sebagai pondasi utama dalam mendirikan sebuah agama bernama Islam. Walhasil beliu diberi gelar Al-amin sejak kecil, artinya orang yang benar-benar kredible dalam menjalankan amanah dan terkenal sangat jujur. Dari mulai tutur kata nya yang jauh dari bohong, usaha jual beli yang ditekuninya tak pernah luput dari kejujuran, sehinga orang Quraisy pada waktu itu sangat percaya menitipkan barang dangangan miliknya kepada Rosulullah untuk diniagakan sampai ke negeri Syam (sekarang Syiria). Hingga pada saat menjelang hijrah ke Yasrib (Madinah), dimana para pemuka Quraisy sudah begitu benci kepada beliau, masih ada penduduk mekah yang menitipkan barang di rumahnya. Sehingga begitu hendak berangkat beliau menitipkan semua barang kepada Ali Bin Abu Thalib untuk dikembalikan kepada pemiliknya.

Dari kejujuran inilah muncul simpati dan kepercayaan (Trust) dari pengikutnya yang merupakan modal utama terbentuk nya umat terbaik yang pernah ada di muka bumi ini 1400 tahun yang lalu.

Yuk.. kita renungkan dan bayangkan, apa jadinya sebuah usaha atau peniagaan yang berlandaskan kejujuran! mungkin tidak perlu lagi Satpam, kamera pengontrol, portal atau pintu besi sebuah brangkas uang yang berlapis-lapis.

Yuk.. kita bayangkan kehidupan masyarakat yang dilandasi kejujuran!, tidak ada lagi rasa saling curiga, yang ada kepercayaan setiap individu kepada individu lainya.

Yuk.. kita bayangkan kehidupan dalam sebuah negara yang berlandaskan kejujuran!. Mungkin tidak ada lagi KPK, hakim dan jaksa di pengadilan akan sedikit ringan bebanya. Korupsi.. NO WAY

Yuk.. kita budayakan kata JUJUR

4 responses to “Yuk kita budayakan sikap “Jujur”

  1. Wilujeng enjing kang…
    suka rasanya ada orang yang masih mau bicara soal kejujuran. Saya setuju dengan yang akan tulis. Saya bukan islam, saya seorang kristen, saya pikir di agama manapun diajarkan mengenai kejujuran. Ada pengalaman pahit di tempat kerja saya terkahir… karena jujur saya harus keluar dari sana. Tapi satu hal buat orang jujur ga usah khawatir ga kerja.. Tuhan pasti buka jalan. Ma kasih kang tulisannya biar jadi motivasi yang baik buat kita semua. God bless U

  2. @wenk
    Thanks ya, udah baca positingan yang sangat sederhana ini, kupikir klo kejujuran adalah sifat dasar manusia yang universal, tidak terikta agama, suku dan negara.
    bila hati nurani seseorang ditanya apakah dia menyukai kejujuran, tentu jawabnya “Ya”
    Linkunganlah yang membuat kejujuran terkikis dari sifat manusia.
    Tetap semangat ya! walau pahit kejujuran tetap harus ditegakan.

  3. setuju kang. Tapi mungkin saya mau sedikit saran aja kang, boleh? boleh ga boleh sih. Menurut saya lebih pas kalau kita bilang ” Yuk kita budayakan sikap jujur”. Kalau semua orang punya sikap jujur ya kang… ?? insyaallah…

  4. @wenk
    Ok deh..
    hatur nuhun atas saranya nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s