Halo Halo Bandoeng

Pernahkah anda ke Gunung Puntang, sebuah kawasan pegunungan di Selatan Bandung, sebenarnya terdiri dari 3 gunung, yaitu Gunung Halimun, Gunung Malabar dan Gunung Puntang. Tapi kawasan wisata disana lebih terkenal dengan nama Gunung Puntang.

Pertama kali penulis menginjakan kaki di sana sekitar tahun 1995, alamnya indah, dihiasi pepohonan pinus, sungai yang mengalir diantara sela-sela bukit. Banyak orang menjadikan tempat itu sebagai tempat perkemahan dan ajang untuk hiking. Tampak dari lebah gunung itu cekungan Bandung yang bila dilihat pada malam hari akan tersaji kerlap kerlip lampu di Kota Kembang itu.

Yang jadi pertanyaan yang menggelitik saat itu, banyak terdapat reruntuhan bangunan, bangunan apakah ini ?. Di reruntuhan paling atas dari kawasan itu terdapat sebuah kolam yang diberi nama “Kolam Cinta”. Mungkin karena kolam tersebut berbentuk hati.

Akhirnya pertanyaan tersebut terjawab setahun yang lalu (2007) setelah membaca artikel di sini. Rupanya bangunan tersebut merupakan bekas pemancar Radio yang digunakan untuk komunikasi pertama kali antara Belanda dan tanah jajahan nya di Hindia Belanda yang dirintis oleh Dr. de Groot, seorang sarjana teknik lulusan Universitas Delft di Belanda. Dalam uji coba nyam, kalimat yang terdengar pertama kali dari negara Kincir angin itu adalah “Halo Halo Bandoeng”, sehingga menginspirasi Ismail Marzuki untuk menggubah lagu pembangkit semangat “Halo Halo Bandung”. Gambar dibawah merupakan brosur Station Radio malabar yang beredar di Eropa sekitar tahun 1928.

Saya boleh katakakan, Satasiun Radio Malabar merupakan sebuah mega proyek pemerintah Hindia Belanda saat itu. Betapa tidak!, proyek yang memiliki keunikan berupa ide dan telkonologi yang pada zamannya merupakan hal yang luar biasa. Diantara keunikan nya adalah :

  • Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal dikarenakan antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 Km, membentang diantara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit untuk dibayangkan bagaimana cara mereka membangun dengan menggunakan teknologi yang ada pada masa tersebut.

  • ada bagian dasar lembah, dahulu terdapat suatu bangunan yang cukup besar yang berfungsi sebagai stasiun pemancar guna mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak 12000 km. Uniknya, mereka bisa mendapatkan lokasi yang sangat ideal, karena arah propagasi struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin terebut. Terlebih tempat ini cukup tersembunyi.

  • Stasiun ini adalah murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang (15km) dan Rancaekek (18km). Hebohnya lagi, karena teknologinya masih boros energi, Belanda membangun PLTA di Dago, PLTU di Dayeuh kolot, dan PLTA di Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya hanya untuk memenuhi kebutuhan si pemancar ! Pemancar ini antara lain masih menggunakan teknologi kuno yaitu busur listrik (Poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowat gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km s/d 7,5 km.

  • Selain bangunan utama berupa stasiun radio pemancar, pada area Gunung Puntang ini dahulunya juga terdapat perkampungan yang dihuni oleh awak stasiun pemancara dengan fasilitas yang cukup lengkap. Perkampungan yang dikenal dengan Kampung radio (Radio Dorf) ini juga dilengkapi rumah-rumah dinas petugas, lapangan tenis, bahkan konon gedung bioskop juga tersedia di masa tersebut.



Sumber :

Namun sayang, sekarang hanya tinggal reruntuhannya saja, dikarenakan bahan bangunan semi permanen (setengah tembok dan setengah kayu), selain itu konon katanya sengaja dihancurkan karena dianggap sebagai sarang spionase pada zaman perang kemerdekaan.

Untuk mengenangnya, disini saya sajikan photo-photo Stasiun Radio Malabar zaman baheula, sebagai bukti bahwa karya Dr. de Groot merupakan sebuah karya yang fenomenal dan merupakan benih dari kemajuan teknologi komunikasi di Indonesia saat ini.

Dokumentasi Photo Stasiun Radio Malabar

Radio Starion Malabar

 Afrit van de Landvoogd van het radiostation Malabar

Panorama van het radiostation Malabar

Panorama van het radiostation Malabar

Personeel van het Radiostation te Malabar (KITLV.nl)

Lihat juga Stasiun Malabar Riwayatmu kini

17 responses to “Halo Halo Bandoeng

  1. Ping-balik: Stasiun Malabar Riwayatmu Kini « Catatan Ide

  2. Aku pernah berkunjung ke Stasion Radio Malabar. Skrg kondisinya memang sangat menyedihkan. Tinggal puing2 dan hawanya terasa dingin, sampai bulu kudukku merinding… Berusaha membuat gambaran keadaan jaman dulu yg penuh dengan nuansa Belanda… Sayangnya pihak Perum Perhutani belum merenovasi fasilitas yg penuh sejarah semacam ini.. Tolong dong, Perum Perhutani!!! Ini aset berharga! Knapa didiamkan saja!!! Hiks hiks hiks

  3. Aduhh.. sayang banget ya kalau ga terurus seperti itu. Setidaknya kita harus menghargai warisan sejarah yang sudah di berikan kepada kita. Jadi, seharusnya memang ada yang bertanggungjawab untuk melestarikannya. Aku juga jadi Hiks hiks hiks

  4. postingannya keren euy…
    Kalau boleh koreksi, hallo Bandoeng yang merupakan sign Callnya Radio Malabar bukan yang mengilhami Ismail Marzuki dengan lagu Halo halo Bandung.

    Tapi ada satu lagu yang diciptakan oleh komponis Belanda, judulnya Hallo Bandoeng. dinyanyikan oleh Willy Derbi.

    Isinya tentang pembicaraan telepon antara seoarng ibu di Belanda dengan anaknya di Indo.

  5. Saya juga pernah berkunjung ke lokasi bekas stasiun radio Malabar ini, yang tersisa cuma kolam cinta nya aja yang dulu terletak pas di depan stasiun, sayang banget yah gedung ini dihancurkan

  6. bagus banget………..
    Saya juga sama…… lama sekali melihat foto-foto reruntuhan bangunan di gunung puntang yang katanya bekas stasiun radio terbesar se-Asia Tenggara.
    sejak pertama kali datang ke gunung puntang (orang Bandung nyebutnya Purtil……hehehehe) sekitar tahun 90-an, saya sudah berpikir bahwa orang belanda selalu memperiapkan pembangunan sematang mungkin. Karena tujuannya untuk membuat pemancar radiao, maka koordinat gunung puntang itu dipilihnya. salut lah ka urang Belanda…. mungkin para orang tua kita tak akan setuju bila kita bilang salut…… karena, saat itu, mereka sangat membenci Londo…….
    tapi,,,,,,, sekarang,,,,,,, kita ,,,,, harus ,,,, bisa,,,, mengambil ,,,,, hikmahnya……. TARARENGKIYU KASADAYANA…..

  7. Saya adalah salah satu anak asuh dari keluarga betawi yg kepala keluarganya (suaminya) bekerja di N.V. Radio Holland di Tanjung Periuk sekarang. Dia adalah Sarbini bin Ainoen seorang sopir pribadi dari salah satu pejabat tinggi teknik radio yg sekarang menjadi RRI (dulu NIROM). Ayah asuh saya itu sering bercerita tentang pengalamannya dan pernah bercerita ttg situasi di stasiun radio malabar dg segala dinamikanya. Saya ingat benar ketika dia bercerita tentang dahsyatnya bunga api listrik yg dihasilkan oleh kumparan Tesla bila pemancar sedang dihidupkan.

    Sekian
    Pieter

  8. sayang sekarang semuanya tinggal puing2nya saja

  9. makasih atas ulasannya,
    Infokan gunung puntang melalui facebook, kami tunggu tulisan2 anda.
    gunung puntang dalam taraf perbaikan dan butuh dukungan semua pihak
    Tolong scan di FB “wana wisata gunung puntang” bergabunglah untuk manjadi pengemar

    Terimakasih

  10. Saya pernah bekerja di Setasiun Radio Penerima Telkom di Rancaekek, Bandung. Salah seorang teman kerja saya yang lebih senior, H.Entang Muchtar (alm) sebelumnya pernah bekerja di Setasiun Radio Pemancar Malabar (Gn. Puntang) bercerita bahwa demi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ia terpaksa menjalankan tugas untuk menghancurkan setasiun radio tersebut sebagai politik bumi hangus, agar tidak dimanfaatkan oleh NICA.
    Maka anda kini hanya bisa melihat bekas-bekasnya belaka. Jawatan PTT kemudian membangun setasiun radio pemancar pengganti di Dayeuhkolot, Bandung. Adapun Jawatan Penerangan membangun setasiun radio RRI Bandung di tempat lain. Kisah tsb juga ada di buku Her Suganda: “Jendela Bandung”.

  11. Saya dua kali berkunjung ke Gunung Puntang, tahun 1991 dan 2009. kondisinya masih tidak berubah, tidak terawat dan dibiarkan musnah sepertinya. sayang sekali, tinggalan kolonial yang seharusnya dilestarikan dan menjadi sarana pembelajaran generasi sekarang dan yang akan datang, harus menangis dimakan usia dan disia-siakan kita. seandainya bisa, ingin rasanya merekonstruksi ulang bangunan tua yang bernilai sejarah tinggi ini. tapi, bagaimana caranya?

  12. bener emang udah jadi puing-puing !

    saya pernah kemping disana, adem PISAN !!!!

  13. If only more than 11 people could hear this..

  14. izin pake gambarnya ya Kang🙂

  15. Ping-balik: touring bandung selatan 2 « triclaksono

  16. Ping-balik: Sesuatu dari Puing-Puing Radio Malabar (Bagian 1) - PERSPEKTIF – T

  17. Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarah,trus kta bangsa apa yah !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s