Stasiun Malabar Riwayatmu Kini

Berikut artikel tambahan untuk melengkapi tulisan Halo Halo Bandoeng. Artikel ini dikutip dari http://klik-galamedia.com, selamat menyimak.

KAWASAN Bandung Selatan ternyata benar-benar menjadi surga bagi para wisatawan. Bukan hanya keindahan alam dan geografinya yang menjadi daya pikat, sejarah yang tersimpan di sana pun ternyata menjadi sesuatu yang dicari.

Ya, Bandung Selatan ternyata banyak menyimpan sejarah. Dari daerah Bandung Selatan ini tonggak sejarah bangsa Indonesia banyak dilahirkan. Namun hal ini tidak disadari banyak oleh masyarakat. Bukan itu saja, pemerintah pun berlaku seperti itu, Bandung Selatan hanya dijadikan bagian dari sejarah.

Perlu diketahui, dari daerah Bandung Selatan inilah sejarah teknologi radio atau radio gelombang pendek lahir dan menghubungkan dua negara dari dua benua. Dulu, di Bandung Selatan khususnya di Gunung Puntang Kec. Banjaran, pernah berdiri Stasiun Malabar yang sempat terkenal di masa penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Gunung Puntang yang masuk kawasan kaki Gunung Malabar ini, memang menawarkan sejuta keindahan bagi pengunjung.

Tidak hanya menawarkan wisata alam yang menyejukkan hati, di kawasan ini juga terdapat objek wisata sejarah peninggalan bangsa Belanda yang cukup unik. Sayang kondisinya kini sudah tidak utuh lagi dan hanya tinggal reruntuhannya. Pada 1923, area ini merupakan lokasi yang sangat terkenal di dunia karena terdapat stasiun pemancar radio Malabar yang dirintis Dr. de Groot. Sebuah pemancar radio yang sangat fenomenal karena antena yang digunakan memiliki panjang 2 km, membentang di antara gunung Malabar dan Halimun, dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit untuk dibayangkan, bagaimana mereka membangunnya dengan teknologi yang ada pada masa tersebut.

Pada bagian dasar lembah, dulu terdapat bangunan yang cukup besar yang berfungsi sebagai stasiun pemancar guna mendukung komunikasi ke negeri Belanda yang berjarak 12.000 km dari Indonesia. Uniknya, bagaimana bangsa Belanda bisa mendapatkan lokasi yang sangat ideal, karena arah struktur antena tersebut memang menuju negara Kincir Angin tersebut. Terlebih tempat ini cukup tersembunyi, sehingga jauh dari jangkauan Jepang dan rakyat Indonesia, yang kala itu sangat membenci Blenada.

Boros energi

Stasiun ini murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang (15 km) dan Rancaekek (18 km). Untuk listriknya, Belanda kemudian membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di daerah utara Kota Bandung (Dago), PLTU di Dayeuhkolot, dan PLTA di Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya, hanya untuk memenuhi kebutuhan pemancar radio tersebut.

Pasalnya, teknologi yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio itu masih menggunakan teknologi yang boros energi (tenaga listrik). Pemancar ini antara lain masih menggunakan teknologi kuno, yaitu busur listrik (poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 – 7,5 km.

Konon menurut catatan sejarah kuncen Bandung, Haryoto Kunto, gedung pemancar ini bentuknya sangat cantik di masa itu. Sayangnya, saat ini hanya tersisa beberapa potong tembok saja, karena struktur bangunannya yang terbuat dari separuh kayu dan separuh tembok. Selain sepotong sisa bangunan tadi, ada juga sisa struktur dinding kolam yang saat ini dikenal dengan nama Kolam Cinta, karena memang bentuknya mirip hati. Ada kepercayaan di masyarakat setempat, jika sejoli berpacaran di lokasi ini akan membawa dampak bagi kelangsungan hubungan mereka. Yaitu jika mereka mau mencuci muka atau mandi di kolan cinta tersebut. Kalau mau mendaki ke atas, sisa-sisa antena juga masih bisa dilihat di lereng gunung.

Selain bangunan utama berupa stasiun radio pemancar, pada area Gunung Puntang ini juga terdapat perkampungan yang dihuni awak stasiun pemancar, dengan fasilitas cukup lengkap. Dulunya, perkampungan yang dikenal dengan nama Kampung Radio (Radio Dorf) oleh masyarakat ini, juga dilengkapi dengan rumah-rumah dinas petugas, lapangan tenis, bahkan gedung bioskop juga konon tersedia di masa tersebut.

Adapun para pejabat yang menempati rumah dinas saat itu, di antaranya Han Moo Key, Nelan, Vallaken, Bickman, Hodskey, Ir. Ong Keh Kong, dan tiga orang putra bangsa, yaitu Djukanda, Sudjono, dan Sopandi. Seluruh fasilitas tersebut diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang memang tinggal di perkampungan radio tersebut. Lokasi jelasnya perkampungan radio ini, yakni berada di area bumi perkemahan Gunung Puntang (sekarang) Kec. Banjaran, Kab. Bandung dengan koordinat global positioning system (GPS) S007.111433 – E107. 602583 dengan ketinggian dari permukaan laut 1.290 meter.

Selain stasiun pemancar radio, di kawasan ini ditemukan pula sebuah gua peninggalan Belanda. Gua ini bisa ditelusuri dengan mudah, meskipun cenderung becek pada bagian dalamnya. Mulut gua ini cukup tersembunyi, di antara lekukan tanah yang bila diperhatikan secara sekilas mirip wajah harimau.

Menurut cerita masyarakat setempat, lorong gua ini akan menuju sebuah curug (air terjun, red) yang dikenal dengan sebutan Curug Siliwangi. Lorong gua tersebut kurang lebih panjangnya 1 km. Dan siapa pun yang berhasil menyusuri lorong gua sampai Curug Siliwangi, konon akan mendapatkan sesuatu yang merupakan peninggalan Prabu Siliwangi. Namun sampai kini, belum ada bukti dari cerita tersebut. (kiki kurnia/berbagai sumber)**

Sumber : http://klik-galamedia.com/20071118/kolomlengkap.php?kolomkode=20071118103229

10 responses to “Stasiun Malabar Riwayatmu Kini

  1. Ping-balik: Halo Halo Bandoeng « Catatan Ide

  2. jadi pengen napak tilas nehhh….
    ada yg punya poto2 nya engga yaa..

  3. Ir. Ong Keh Kong was my grandfather. He pass away 4/5/2002 in Califonia. Does any one have any more informations regarding my grandfather, his friends, and this project? I would like to hear from you.

    Thank you.

  4. Benar benar bersejarah tempat awal kejayaan masa awal radio di Indonesia

  5. Artikel yang bagus.. Gak nyangka aja.. Sayang yah bangsa kita ini sangat susah untuk belajar.. dan menghargai..

  6. Urang geus buka euy….. nyaan teu nyangka bisa dapet informasi sejarah pangalengan dll. keep going and continu…

  7. wagh mantab negh
    gw asli org sana kawan
    curug siliwangi
    mantab tempatnya
    klo maen k curug sayang klo ga d abadikan momen nya
    ketinggian curug +/-100m
    bagi yg suka climbing oke juga tuh
    klo g salah di balik airterjun ada gua yg mulut gua nya tertutup airterjun
    konon itu tempat bersemedi prabu siliwangi

  8. Saya sangat tertarik akan sejarah Stasiun Radio Malabar. Konon kakek saya pada saat stasiun radio ini sedang dibangun th. 1922 bekerja di sana sebagai teknisi. Pada saat itu nenek saya sedang mengandung ibu saya. Karena stasiun radio ini berada di antara beberapa gunung ( Malabar, Halimun – Haruman, Puntang ) kakek saya mengatakan kepada nenek saya, kalau anak mereka laki-laki, namakan Haruman sedangkan kalau wanita Harumani. Tanggal 7 Desember 1922 ( 90 th yll) lahirlah ibu saya,
    ibu Harumani. Pertanyaan saya dimana saya bisa menemukan sumber untuk bisa menemukan bukti bahwa memang kakek saya berada disana pada waktu itu? Mengenai “Hallo Bandung” kata ini di Belanda sangat terkenal karena lagu yang di nyanyikan oleh Witteke van Dort. Kebetulan sejak 22 th yg lalu saya tinggal di negara Belanda. Witteke van Dort adalah artis Belanda yang lahir di Indonesia dan sangat aktif berperan sebagai wakil orang Indo di negara Belanda biarpun sebenarnya beliau adalah orang Belanda totok.

    Salam dari NL.

    Salam !

  9. Pertanyaan saya di atas ini saya ajukan sehubungan dengan peringatan 90 tahun hubungan pertama antara Radio Stasiun Kootwijk di Veluwe, Nederland dengan Radio Stasiun Malabar 5 Mei 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s