Jejak Insinyur Soekarno di Pangalengan

Bila dalam situs mojokerto.info ada satu tulisan yang membahas mantan Presiden Soekarno di Mojokerto, maka disini lebih ditekankan pada jejak Soekarno di Pangalengan, dengan menggunakan sumber yang sama. Mungkin rekan-rekan atau para sesepuh Pangalengan ada yang tahu dimana waktu itu Presiden kita singgah dan bertempat tinggal di Pangalengan?, pada tulisan ini sengaja saya tulis tebal sebuah snap shot kehidupan Soekarno, yang ternyata memang itu adalah Pangalengan.

Riwayat Singkat Bung Karno

PROKLAMATOR KEMERDEKAAN RI, PEMIMPIN BESAR REVOLUSI,
PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT, PENGGALI PANCASILA

6 JUNI 1901
Hari Kamis Pon. Windu Sanjaya. Wuku Wayang di Lawang Seketeng Surabaya, saat fajar menyingsing lahirlah jabang bayi Koesno yang kelak akan menjadi Soekarno dan pasangan Ida Ayu Nyoman Rai Sarimben, seorang putri keturunan Kasta Brahmana dan Banjar Balai Agung Singaraja Bali dengan Raden Soekemi Sosrodiharjo, Putra Raden Hardjodikromo seorang tokoh kebatinan di Tulungagung Jawa Timur.

Saat kecil, Soekarno diasuh oleh Mbok Sarinah, sekaligus yang mengajarkan tentang kecintaan kepada orang tua, rakyatjelata dan sesama manusia,

TAHUN 1915
Tamat EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL (ELS) di Mojokerto — Jawa Timur.
10 JUNI 1921
Pelajar Soekarno tamat dan sekolah HOGERE BURGER SCHOOL (HBS) di Surabaya. Semasa di HBS, ayahnya menitipkan Soekarno di rumah HOS. Cokroaminoto, Politikus Nasional dan Serikat Islam (SI).

Di rumah inilah Soekarno dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, antara lain : Alimin, Muso, Darsono, serta mengenal dunia idea tokoh-tokoh dunia seperti Thomas Jefferson Jawaharal Nehru, Gladestone, Mahatma Gandi, Mazzini Jamaluddin Al Afgani, Moh Abduh, dIl.

25 MEl 1926
Soekarno berhasil menyelesaikan studinya di TERHNISCHE HOGE SCHOOL (THS) Bandung dengan mendapat gelar CIVIEL INGENIEUR (Insinyur Sipil).

TAHUN 1926
Diawali dengan pertemuan dengan seorang petani bernama Pak Marhaen di daerah Cigareleng Bandung Selatan dan melalui proses perenungan yang dalam serta serius, akhirnya Soekarno menemukan konsep Marhaen.

Marhaenis, Marhaenisme sebagai teori perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, oleh karenanya Bung Karno disebut sebagai Bapak Marhaenisme.

TAHUN 1926
Menulis artikel tentang Nasionallsme. Islamisme dan Marxisme” dan bersama-sama kawannya mendirikan “Algemeene Studieclub di Bandung, suatu perkumpulan yang mempelajari pergerakan politik yang didasarkan pada paham kebangsaan dan beruratnadikan rakyat jelata

4 JULI 1927
Ir. Soekarno bersama Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo, Dr. Sanusi Sastrowidagdo, Mr. Budiarto, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo dan Ir. Anwari mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang bertujuan mencapai Indonesia Merdeka.

Pada kongres PNI pertama tanggal 27 sampai dengan 30 Mei 1928 di Surabaya, Perserikatan Nasional Indonesia berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menerbitkan majalah Suluh Indonesia.

TAHUN 1928
Ir. Soekarno mengajarkan “Trilogi” perjuangannya yaitu:
– National Geest = Kesadaran Berbangsa
– National Will = Kemauan Berbangsa
– National Daad = Tindakan berbangsa

17 APRIL 1931
Bung Karno menyampaikan pledoinya di hadapan Pengadilan Kolonial Belanda setelah mengalami 19 kali persidangan selama 4 bulan. Pembelaan tersebut tetap tidak bisa membebaskan dan segala tuntutan, maka hakim Kolonial menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara di Banceuy dan kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Pledoi Bung Karno kemudian dibukukan dalam “Indonesia Menggugat”

MARET 1932
Bung Karno menulis naskah Mencapai Indonesia Merdeka” di Pengalengan Selatan Kota Bandung” dan dimuat dalam Koran Pikiran Rakyat

1 AGUSTUS 1933
Bung Karno ditangkap oleh Polisi Kolonial Belanda di rumah Moh. Husni Thamrin di Jakarta dan dijebloskan dalam penjara Sukamiskin selama 4 bulan.

17 FEBRUARI 1934
Bung Karno dibuang ke Ende, di Pulau Flores selama 4 tahun didampingi Ibu Inggit Garnasih dan putri angkat Ratna Djuwani serta Ibu Amsi (mertua), berangkat dengan Kapal “Van Reibeeck”. Di tanah pembuangan Ende-Flores selama 4 tahun ini, Bung Karno banyak menulis artikel tentang Islam yang ditujukan kepada A. Hasan, guru ‘Persatuan Islam” di Bandung. Kemudian sebanyak 12 surat tersebut diterbitkan dengan judul “Surat-Surat Islam dari Ende”.

14 FEBRUARI 1938
Berdasarkan besluit Pemerintah Kolonial Belanda tertanggal 14 Februari 1938, pembuangan Bung Karno dipindah ke Bengkulu. Sesampai di Bengkulu. Bung Karno menjadi Ketua Pengajaran Muhamadiyah Daerah Bengkulu.

9 JULI 1942
Ketika ada tanda-tanda Jepang mendarat, rencananya Bung Karno akan dilarikan ke Padang, kemudian dibawa lagi ke Australia oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Setelah Jepang mendarat dan berhasil merebut Bung Karno, maka dikembalikan ke Jakarta tanggal 9 Juli 1942. Maka berakhirlah masa pembuangan Bung Karno oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

9 MARET 1943
Bung Karno bersama Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH Mas Mansur memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) sebagai sarana taktis untuk menyusun tenaga dan kekuatan rakyat terlatih dalam merebut Kemerdekaan dari Jepang.

JUNI 1943
Bung Karno menikah dengan Fatmawati.

I JUNI 1945
Bung Karno berpidato dalam Sidang Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di gedung Pejambon Jakarta.
Dalam pidato tersebut, Bung Karno mengemukakan gagasan Philosofiche Gronslaag yang digali dan sosio cultural bangsa sendiri sebagat dasar Indonesia Merdeka, Sejak itu pula Bung Karno dikenal sebagai Penggali Pancasila.

8 JUNI 1945
Bung Karno dipilih sebagai Ketua Dokuritsu Zyunbi Iinkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Atas kewenangannya itu Bung Karno merubah anggota PPKI dan 21 orang menjadi 27 orang dengan maksud untuk ingin mengubah lembaga buatan Jepang menjadi lembaga bersifat Nasional yang mencerminkan perwakilan nusantara.

10 JULI 1945
Bung Karno memimpin sidang panitia kecil BPUPKI ke II bertempat di rumah Bung Karno untuk menyusun Konstitusi Negara Indonesia yang kemudian dikenal dengan nama Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

15 AGUSTUS 1945
Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda yang dipimpin oleh Chaerul Saleh dan Adam Malik, dan dilarikan ke Rengasdengklok untuk didesak segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesta saat itu juga.
Setelah terjadi perdebatan yang cukup menegangkan dan berakhir dengan persesuaian pendapat, maka Bung Karno dan Bung Hatta dikembalikan ke Jakarta.

17 AGVSTUS 1945
Bung Karno dan Bung Hatta mewakili seiuruh rakyat Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia tepat hari Jumat Legi pukul 10.00 WIB di Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan disiarkan melalui Kantor Besar Radio Domei.

Bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati berkibar diiringi lagu “Indonesia Raya”.

Sejak hari itu Bung Karno dan Bung Hatta disebut sebagai “Proklamator Kemerdekaan Indonesia “.

18 AGUSTUS 1945
PPKI mengangkat Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden (berdasarkan Aturan Peralihan, pasal 3 UUD 1945) dan dalam melaksanakan jabatannya dibantu oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP).

5 OKTOBER 1945
Dekrit Presiden untuk membentuk angkatan perang. Maka pemerintah menugaskan kepada Mayor Urip Sumohardjo untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) serta mengangkat Sodanco Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat, namun tidak pernah hadir dan tidak diketahui keberadaannya.

4 JANUARI 1946
Pada akhir Desember 1945, tentara Belanda memasuki Jakarta, maka Bung Karno dan Bung Hatta secara rahasia berangkat dari Jakarta ke Jogjakarta dengan naik kereta pada malam hari (belakang rumah Bung Karno ada rel kereta api) dengan dasar pertimbangan bahwa resiko mempertahankan pusat pemerintahan terlalu besar, maka diputuskan pusat pemerintahan dipindah ke Jogjakarta.

18 SEPTEMBER 1948
Pemberontakan PKI meletus di Madiun dibawah pimpinan Muso yang ingin mendirikan Pemerintahan Komunis Sovyet di Indonesia, maka Bung Karno menyerukan kepada masyarakat melalui radio untuk memilih pemimpinnya “Soekarno — Hatta atau Muso dan PKI-nya”. Akhirnya rakyat menjatuhkan pilihannya kepada Soekarno — Hatta. Selanjutnya pada bulan Oktober 1948 Divisi Siliwangi di bawah pimpinan AH Nasution berhasil memadamkan pemberontakan dan Muso mati dalam pertempuran kecil.

19 DESEMBER 1948
Agresi Militer Belanda ke II, Jogjakarta diduduki Belanda. Tanggal 22 Desember 1948 pukul 07.00, Kolonel Van Langen menangkap Bung Karno, H. Agus Salim dan Sutan Syahril dibawa ke Medan. sedangkan Bung Hatta, Mr. Moh. Roem, Mr. All Sastro Amijoyo, Mr Gafar Pringgodikdo, Mr. Assaat dan Komodor Suria Darma dilarikan ke Bangka.

Dalam perjalanan dari Istana Jogjakarta sampai ke Prapat (Sumatera Utara), Bung Karno mengalami tiga kali usaha pembunuhan terhadap dirinya, yaitu:
• Menurut pengakuan Kapten Vosfeiet, sopir Jeep yang diperintah oleh Jenderal Spoor, Panglima Besar tentara Belanda:
“DaIam perjalanan dan Istana menuju Maguwo, Bung Karno dinaikkan jeep terbuka. tanpa borgol dan berjalan pelan”, dimaksudkan agar Bung Karno punya kesempatan melarikan diri dan akan ditembak mati. “
• Menurut pengakuan Mr Yoseph Marie Antoim Habert Luns, mantan Menten Luar Negeni Belanda dan Sekjen NATO:
“Dalam perjalanan udara dari Maguwo ke Medan, Bung Karno akan dibunuh dengan cara dilemparkan dari kapal udara
• Kesaksian juru masak (perempuan) para tawanan Brastagi mendapat perintah dari opsir bahwa besok pagi tidak perlu memasak untuk para tawanan, sebab besok pagi Bung Karno dan teman-temannya akan menjalani eksekusi tembak mati. Karena Belanda menganggap bahwa untuk menghancurkan Republik Indonesia harus melenyapkan Soekarno lebih dahulu. Malam harinya rakyat Brastagi menyusun gerilya untuk membebaskan Bung Karno, tapi upaya tersebut sudah diketahui oleh
tentara Belanda, maka Bung Karno dibawa lari oleh Algojo Belanda menuju Prapat.

6 JULI 1949
Bung Karno dan pemimpin lainnya dikembalikan oleh Belanda ke Jogjakarta setelah melalui perjanjian ‘Roem — Royen Statements’

28 DESEMBER 1949
Bung Karno bersama rombongan kembali ke Jakarta dengan 2 pesawat Dakota (yang salah satunya merupakan sumbangan rakyat Aceh), mendarat di Kemayoran sekitar pukul 11.30 WIB. dengan diiringi bendera asli proklamasi. Rombongan menuju Istana Negara dan mulai saat itu Ibu Kota kembali ke Jakarta.

7 JULI 1953
Bung Karno menikah dengan Ibu Hartini.

18 APRIL 1955
Bung Karno menyampaikan pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika ke I di Bandung dengan judul Asia Baru dan Afrika Baru”.

JULI 1955
Bung Karno naik Haji ke Tanah Suci.

21 FEBRUARI 1957
Pidato Presiden di Istana Negara tentang Konsepsi yang menolak demokrasi liberal karena melahirkan tirani minoritas dan mayoritas, yang dikehendaki adalah demokrasi terpimpin oleh nilai-nilai yang berakar pada masyarakat Indonesia.

Ekses dan sikap politik tersebut, dan kelompok reaksioner mengadakan upaya pembunuhan terhadap Bung Karno dengan cara penembakan di Hari Raya Idul Adha dan geranat meledak di Cikini

30 SEPTEMBER 1960
Bung Karno pidato di depan Sidang Umum PBB di New York — Amerika Serikat dalam judul “To Build The World A New” yang menawarkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar piagam PBB.

19 DESEMBER 1961
Presiden Soekarno memberikan Komando Pembebasan lrian Barat yang dikenal dengan nama “Tri Komando Rakyat” (Trikora) pada rapat umum di Jogjakarta yang berisikan:
1. Gagalkan pembentukan Negara “Papua” bikinan Kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum.

Atas komando tersebut, wilayah Irian Barat yang mempunyai luas beberapa kali Pulau Jawa dalam waktu 1 tahun, 4 bulan, 13 hari sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

3 MARET 1962
Menikah dengan Ratna Sari Dewi, (Naoko Nemoto).

3 ME 1964
Komando Dwi Kora.

11 MARET 1966
Presiden Soekarno memberikan perintah (Supersemar) kepada menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Soeharto untuk:
1. Mengambil segera tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan kewibawaan pimpinan, Presiden /Panglima Tertinggi /Pimpinan Besar Revolusi /Mandataris MPR, untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.
2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan pemerintah dengan Panglima Angkatan lainnya dengan sebaik-baiknya.
3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawab seperti tersebut di atas.

7 MARET 1967
Kekuasaan Pemerintahan Bung Karno dipreteli oleh Tap. MPRS No. XXXIII / MPRS / 1967, secara hukum TAP tersebut mempunyat kelemahan yang serius, karena seseorang yang belum atau ttdak terbukti kesalahannya tetapi hak-haknya dicabut dan tidak dikembalikan.

Ironis, seorang Bapak yang menghabiskan waktunya dan mempertaruhkan seluruh hidupnya bagi kemerdekaan bangsanya, harus mengakhiri hidupnya di Tahanan Negara oleh bangsanya sendiri.

21 JUNI 1970
Han Minggu Pahing pukul 19.00 Bung Karno menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Gatot Subroto, setelah sekian lama mendenita sakit dan dikarantina di Wisma Yaso.

“Innalillahi Wainna Illaihi Roji’un”. Telah pulang Bapak Bangsa Indonesia ke Rahmatullah dan kini tugas kita semua menjaga negeri ini selama-lamanya.

———————————————————————–

6 June 1901: Sukarno was born in Surabaya (father, Raden Sukemi So-
srodihardjo [a Javanese], and mother, Idayu Njoman Rai
[a Balinese])
1911 – 1913 : Sukarno attended his father’s primary school at Mojo-
kerto
1914 – 1915 : attended ELS (Europeesche Lagere School), a Dutch-language
elementary school, at Mojokerto
1916 – 1921 : attended HBS (Hogere Burger School), an elite Dutch high
school, in Surabaya
1921 – 1926 : attended THS (Technische Hoogeschool te Bandung) in Bandung,
earned “Ingenieur” with a dissertation on Harbour Design;
he also developed his own version of Marxism, called MAR-
HAENISM; he claimed to have met a sundanese farmer nicknamed
Marhaen while cycling through the countryside near Bandung;
the following is a conversation between Sukarno and Marhaen:
‘Who owns this field ?’ asked Sukarno
‘I do,’ replied Marhaen
‘And the hoe, who owns that ?’
‘I do.’
‘Those tools, who owns them ?’
‘I do.’
‘The crop on which you’re working, for whom is it ?’
‘For me.’
‘Is it sufficient for your needs ?’
‘There’s barely enough to keep us alive.’
‘Do you ever sell your labour ?’
‘No.I must work hard, but my labours are all for myself.’
‘But brother, you live in poverty.’
‘That’s right, I live poorly.’
‘I thought to myself,’ said Sukarno,’this man clearly and
certainly is not a member of the proletariat, he is a pauper,
he is poor, he suffers much, has not enough to live on, but
he is not a member of the proletariat, for he does not sell
his labour-power to another without participating in owner-
ship of the means of production.
[ He then asked the farmer his name and was told MARHAEN. Sukar-
no then decided to use that name to describe the DESTITUTE
PEOPLE OF INDONESIA ]
4 Jul. 1927 : Ir. Sukarno, Iskaq Tjokrohadisurjo, and Dr. Tjipto Mangunku-
sumo established ‘Perserikatan National Indonesia’ (PNI);
Party’s position was political independence of Indonesia and
non-cooperation with the Netherland Indies Gov’t.
May 1928 : PNI became ‘Partai Nasional Indonesia’
29 Dec. 1929: Sukarno and his colleagues at PNI were arrested by the Dutch
police
18 Aug –
22 Dec 1930: Sukarno was tried at the Bandung District Court under
the presidency of Mr. R. Siegenbeek van Heukelom on charges
(under Article 153 of HAATZAAI Article) of a crime to contri-
bute by speaking or writing, directly or by implication, to
the disturbance of public order; Sukarno then made an eloquent
speech titled ‘Indonesia Menggugat’ in his own defence; he was
then found guilty and sentenced 4 years in the jail of Suka-
miskin near Bandung.
25 Apr 1931 : PNI was dissolved and replaced by ‘Partai Indonesia’ (Pertindo)
31 Dec 1931 : Sukarno got clemency and was released from jail, and then joined
Partindo
1 Oct 1933 –
9 Jul 1942 : Sukarno was arrested for the second time and exiled to Endeh
(Flores), then tranferred to Bengkulu in 1938 after he suf-
ferred a severe bout of malaria
9 Mar 1942 : The Netherland Indies Gov’t surrendered to Japan without
offering much resistance on land; Sukarno was subsequently
released from jail
9 Mar 1943 : Putera (’Pusat Tenaga Rakyat’) was set up with Sukarno as
Chairman; however, his reputation was tarnished by his role
in recruiting Romusha, a conscription of Indonesian laborers
to serve the Japanese army, not only in Indonesia, but also
in other parts of Southeast Asia (estimated that 270,000 ro-
musha were sent Outer Islands and Japanese-held territories
in Southeast Asia, but only 52,000 were repatriated to Java);
Sukarno’s collaboration with the Japanese gov’t (who was hos-
tile to the Allies) also brought into being a familiar refrain
in his oratory ‘Amerika kita setrika, Inggris kita linggis !’.
March 1944 : Djawa Hokokai replaced Putera which was dissolved by the end
of 1943; the new party was under the chairmanship of Sukarno.
1 Mar 1945 : BPUPKI (’Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indone-
sia) was founded under the chairmanship of Dr. Radjiman We-
diodiningrat.
1 June 1945 : Sukarno introduced his Pancasila during BPUPKI meeting. His
Pancasila contained five principles:
1. nationalism
2. internationalism (humanism)
3. democracy (representative government or consent)
4. social prosperity for all
5. belief in God
He said,’The first two principles, nationalism and interna-
tionalism, can be pressed to one, which I used to call socio-
nationalism.’ Similarly with democracy ‘which is not the de-
mocracy of the West’ together with social justice for all
can be pressed down to one, and called socio democracy. Fi-
nally – belief in God. ‘And so what originally was five has
become three: socio nationalism, socio democracy, and belief
in God.’ ‘If I press down five to get three, and three to
get one, then I have a genuine Indonesian term – GOTONG RO-
YONG [mutual co-operation]. The state of Indonesia which we
are to establish should be a state of mutual co-operation.
How fine that is ! A Gotong Royong state !’
8 Aug 1945 : Sukarno, Hatta, and Radjiman Wediodiningrat were summoned by
Marshal Terauchi, Commander-in-Chief of Japan’s Southern
Expeditionary Forces in Saigon.
14 Aug 1945 : they return from Saigon
15 Aug 1945 : Sukarno, Hatta, and Mr. Ali Subardjo visited Admiral Maeda.
In the evening, Sukarno received Wikana and his colleagues
and was later kidnapped by Jakarta youth leaders
16 Aug 1945 : Sukarno and Hatta were held kidnapped at Rengasdengklok.
They then returned to Jakarta in the evening in order to
see the Gunseikan, General Yamamoto, the meeting with Nishi-
mura and the drafting of the proclamation.
17 Aug 1945 : The proclamation by Sukarno and Hatta on behalf of all In-
donesian people
15 Aug 1950 : Sukarno unilaterally declared the unitary Republic of In-
donesia and abandoned the Round Table Conference signed
by Indonesia and its former ruler, the Netherlands, on 27
Dec. 1949; Indonesia followed a Parliamentary Democracy
till 1959.
April 1955 : Sukarno hosted the Afro-Asian Conference in Bandung; 29
Non-Bloc countries attended the conference
10 Nov 1956 : The newly elected Constituent Assembly started to draft
a new Indonesian constitution
18 May 1958 : During PRRI revolt in Sulawesi, an American B-25 pilot,
Allan Pope, was shot down over Ambon. After this incident,
Sukarno had good reason to believe that America would like to
see him toppled, and he started developing closer relations
with the Soviet Union and, especially, the People’s Republic
of China
5 July 1959 : Sukarno with influence from the Army dissolved the Cons-
tituent Assembly and adopted by decree the Constitution of
1945 (UUD 45); later this year, Sukarno introduced his NASAKOM
(’Nasionalisme, Agama, dan Komunisme’) which was to serve as
the basis for a revolutionary ‘just and prosperous society.’
Under Nasakom, to oppose PKI (’Partai Komunis Indonesia’) was
to be anti-Pancasila/anti-Sukarno.
1960 : Sukarno introduced his most important formulas, Manipol/USDEK;
USDEK was an acronym of UUD 45, ‘Sosialisme ala Indonesia’,
‘Demokrasi Terpimpin’,’Ekonomi Terpimpin’,and ‘Kepribadian
Indonesia’; at the same time, the PKI power in Java’s villages
grew strongly
23 Sep 1963 : Sukarno who had proclaimed himself President-for-Life declared
‘Ganyang Malaysia’ Policy
Late 1963 : following Sukarno’s call for implementation of land reform mea-
sures that had been made into law in 1960, the PKI announced
‘aksi sepihak’ and began dispossessing landlords and distribu-
ting the land to poor Javanese, northern Sumatrans, and Balinese
peasants. Reforms were not accomplished without violance. Old
rivalries between nominal Moslems, the abangan (many of whom
were PKI supporters), and orthodox Moslems (’santri’) were
exacerbated. The PKI membership rolls then totalled 2 million.
Dec. 1964 : After the UN General Assembly elected Malaysia as a nonpermanent
member of the Security Council, Sukarno took Indonesia out of
the world body and promised to establish CONEFO (Conference of
New Emerging Forces); 1964 was called by Sukarno as TAVIP (’Ta-
hun Vivere Pericoloso’ = The Year of Living Dingereously )
29 May 1965 : Sukarno announced that he had documentary evidence (called Gil-
christ Letter) of a plot against the lives of himself, Suban-
drio, and Ahmad Yani, to be carried out by ‘henchmen’ of the
imperialists( which in the Gilchrist Letter were called ‘our
local army friends’ and which could be held to imply the exis-
tence of close connections between the British Embassy and mem-
bers of the Indonesian Army). These statements were made in the
context of Gilchrist letter, produced by Subandrio and purpor-
ting to be a telegram of the preceeding March from the British
Ambassador, Sir Andrew Gilchrist to the British Foreign Office.
17 Aug 1965 : D.N. Aidit, the PKI chairman, called for the arming of 5 million
workers and 10 million peasants to carry on ‘Ganyang Malaysia’;
this new armed force were then called ‘the Fifth Force’
30 Sep –
1 Oct 1965 : A coup d’etat was launched by Lt.Col. Untung, commander of the
Tjakrabirawa Presidential Guard, but smashed by Lt.Gen. Suharto
from KOSTRAD; this event however remains a mistery to Indonesian
people up to this present moment (especially about who has mas-
terminded the coup d’etat)==> please see explanation below in
Appendix I
11 Mar. 1967: Sukarno was FORCED to sign the executive order of March 11 (’Su-
persemar) in front of three generals, Basuki Rachmat, Mohammad
Yusuf, and Amir Machmud, and Sukarno was obliged to transfer
supreme authority to Suharto ( Please note that the above three
generals were sent by Suharto [Minister and Commander of the Ar-
my], so this 11 March event should be viewed as COUP d’ETAT by
Suharto against Sukarno)
12 Mar. 1967: MPRS stripped Sukarno of all political power and installed Su-
harto as Acting President.
21 June 1970: After a sudden deterioration in his condition on 16 June 1970,
Sukarno was taken to the Jakarta Military Hospital and died
there on the morning of 21 June. Sukarno’s wish to be buried
in the garden of his Batu Tulis home near Jakarta was not
granted by Suharto (then President of Indonesia); and he was
instead buried next to his mother at Blitar (East Java).
Years before his death, Sukarno had written,”And when I die,
don’t write on my tombstone, President Sukarno, doctor,
engineer,leader of the Revolution … No ! Just write on my
tombstone,
“Here lies Sukarno, ‘Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ ”

References:

1. J.D. Legge, “Sukarno: A Political Biography”, The Penguin Press (1972)
2. W.H. Frederick and R.L. Worden, “Indonesia: a country study”, Department of the Army (1993)

Sumber dari :

http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=pustaka&id=12

http://www.antenna.nl/wvi/eng/ic/pki/sal/salim.html

4 responses to “Jejak Insinyur Soekarno di Pangalengan

  1. Saya suka ceritanya cukup menarik dan
    cerita itu sudah menambah pengetahuan saya tentang sejarah bangsa.
    saran… kalau bisa yang lebih mendetail lagi. Terimakasih,,,,

  2. Denny N Soehardjadinata

    Taunna mah teu jelas, kantos ngadangu ti para sepuh, cenah leres Bung Karno teh kantos nganjrek di Pangalengan, duka ari sabaraha sasih atawa taunna mah. Mung kuemutan tangtos dirahasiahnakeunana teh, ma’lum jaman perjuangan (mun seug Ibu Inggit jumeneng keneh mah tangtos tiasa kapaluruh). Mung saurna, linggihna di bumina Tuan Goan Hu, nu ayeuna panginten janten Gedung KPBS, (Upami baheula mah wetaneun SR 3). Kanggo pangemut-ngemut cenah duka saha nu ngadamelna, tos diwangun TUGU gambarna ngandung siloka Jrrd. Tapi kadieunakeun hanjakal eta tugu dirobah gambarna, tapi mun seug disidik-sidik gambar teh maksudna mah MAUNG SILIWANGI tapi leuwih teges mun disebut “blasteran” bueuk jeung careuh (Heheh). Naon margina dirobih, tegesna mah bangsa urang teu acan tiasa ngahargaan sejarah tea.meureun. Walahualam……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s