Krisis Ekonomi dan Peternakan Sapi Perah

Dewa K.S. Swastika dkk.

Bulletin Agro Ekonomi I (4) 2001 : 16-21

Pesatnya perkembangan industri susu segar dalam negeri selama periode 1979-1996 tidak terlepas dari berbagai kebijaksanaan yang kondusif. Pada tahun 1983 pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, yaitu Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dan Koperasi. Dalam SKB tersebut Industri Pengolah Susu diwajibkan menyerap susu segar dalam negeri sebagai pendamping dari susu impor untuk bahan baku industrinya. Proporsi penyerapan susu segar dalam negeri ditetapkan dalam bentuk rasio susu, yaitu perbandingan antara pemakaian susu segar dalam negeri dan susu impor yang harus dibuktikan dalam bentuk bukti serap.

Untuk mendukung perkembangan produksi susu segar dalam negeri, selain menjamin pemasaran, pemerintah juga mengupayakan bibit sapi perah unggul melalui impor. Selama periode 1979 sampai 1995, pemerintah telah mengimpor sebanyak 87.885 ekor bibit sapi perah. Sapi perah impor tersebut disalurkan kepada peternak melalui koperasi primer dalam bentuk kredit. Peternak mengangsur kredit tersebut dengan sebagian dari hasil penjualan susu. Namun demikian, usaha peternakan sapi perah di Indonesia masih belum efisien, sehingga harga susu segar dalam negeri relatif lebih mahal dari pada susu impor. Akibatnya, sekitar 70 persen dari kebutuhan bahan baku IPS masih diimpor. Penelitian ini mendalami dampak krisis ekonomi terhadap peternakan sapi perah.

populasiKrisis ekonomi telah mengakibatkan populasi sapi perah di Jawa Barat turun cukup tajam  yaitu dari 119.744 ekor pada tahun 1996 menjadi 79.234 ekor pada tahun 1998, atau turun sekitar 16,9 persen per tahun (Tabel 1). Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : (a) Tingginya harga bibit sapi dan pakan, (b) Tingginya harga daging sapi mendorong peternak untuk menjual sapinya dalam bentuk sapi potong, (c) Adanya langkah rasionalisasi pemeliharaan sapi, dimana peternak hanya mempertahankan sapi yang produktif saja dan menjual sapi yang sudah tidak produktif.

tabel1

Produksi Susu Segar Dalam Negeri

Produksi susu segar di Indonesia pada tahun 1994 berjumlah 426.727 ton, meningkat menjadi 441.163 ton pada tahun 1996, kemudian menurun menjadi 375.382 ton pada tahun 1998, atau menurun sekitar 7,5 persen per tahun selama periode 1996-1998 (Tabel 2). Penurunan tersebut terjadi akibat adanya krisis moneter sehingga pengadaan sapi bibit impor dan harga pakan konsentrat bermutu yang bahan bakunya masih mengandalkan komponen impor mengalami kenaikan cukup berarti.

tabel2

gambar2

Dampak Krisis Terhadap Usaha Sapi Perah Rakyat Pembibitan

Mahalnya sapi perah impor akibat krisis ekonomi menyebabkan kegiatan impor yang selama ini dilakukan pemerintah menjadi terhenti. Sebelum krisis, harga seekor sapi perah bibit asal impor hanya Rp. 2,2 juta (1000 US$). Setelah krisis meningkat mencapai Rp. 7 juta. Sedangkan di dalam negeri harga bibit sapi perah berkisar antara Rp. 3 � 5 juta tergantung pada tingkat umur dan kemampuan produksi susunya (Tabel 3). Untuk mengatasi mahalnya harga bibit impor, usaha peternakan sapi perah rakyat yang tergabung dalam wadah koperasi susu, menggunakan sapi turunan yang ada yang perkembangbiakannya sebagian besar menggunakan program inseminasi buatan (IB). Selama ini upaya pengadaan bibit sapi perah telah dilakukan pada unit-unit pembibitan pada beberapa koperasi primer.

tabel3

Di tingkat peternak, pengadaan bibit umumnya dilakukan dengan cara membeli bibit yang sudah berproduksi atau sapi yang siap berproduksi (bunting). Hanya beberapa peternak, terutama yang memiliki modal relatif besar pengadaan bibit dilakukan dengan cara memelihara sapi sejak masih pedet. Meningkatnya harga bibit setelah krisis ekonomi mendorong peternak untuk mengadakan bibit secara lebih mandiri, yaitu peternak membesarkan pedet untuk dijadikan bibit. Dalam sistem pembibitan sapi perah di Indonesia peran pemerintah relatif sudah berkurang.

Pakan Ternak

Kendala dalam pengadaan pakan konsentrat masih sangat tergantung pada bahan baku impor, yaitu pollard, bungkil kedele dan jagung. Walaupun pada kondisi tertentu pollard dapat disubstitusi dengan dedak padi, namun berdampak terhadap kuantitas dan kualitas produk susu yang dihasilkan. Untuk mempertahankan kualitas hasil, ada beberapa koperasi yang memberikan rekomendasi pada anggotanya tentang jumlah pakan konsentrat yang diberikan pada sapi sesuai tingkat produksi susunya.

Naiknya harga pakan akibat krisis segera dirasakan oleh peternak, sedangkan kenaikan harga susu tidak demikian. Akibatnya sampai April 1998 banyak peternak yang menjual pedet untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya. Bahkan di Jawa Barat ada beberapa peternak yang menjual semua ternaknya dan beralih ke usaha lain. Untuk mengatasi kenaikan harga pakan, pihak koperasi berupaya menekan harga pakan dengan cara menggunakn bahan baku yang relatif murah. Akibatnya kualitas pakan menjadi menurun.

Kelangsungan Usaha

Pada umumnya sapi perah yang dipelihara adalah jenis turunan FH (Frieh Holland). Hanya sebagian peternak di Lekok Pasuruan memelihara sapi perah persilangan FH dengan sapi Jawa (Grati). Kebanyakan peternak berusaha pada skala pemilikan sapi produktif antara 2-4 ekor. Skala usaha yang dinilai efisien adalah berkisar 5-7 ekor. Untuk meningkatkan skala usaha, peternak menghadapi masalah dalam ketersediaan modal untuk pembelian bibit dan keterbatasan lahan untuk pengadaan pakan hijauan. Semakin bertambahnya peternak dengan skala pemilikan yang kecil menimbulkan masalah dalam efisiensi usaha. Oleh karena itu respon peternak terhadap usaha ini hendaknya diikuti dengan dukungan fasilitas kredit pengadaan bibit dan sarana pengadaan pakan hijauan.

Krisis ekonomi menyebabkan usaha dengan skala pemilikan 8 ekor ke atas yang menggunakan tenaga kerja luar keluarga dan pengadaan pakan hijauan melalui pembelian mengalami peningkatan biaya produksi yang cukup tajam sehingga usaha ini mengalami kerugian dan ada yang berhenti. Bagi peternak bermodal lemah, ketidak seimbangan biaya pakan dan harga susu menyebabkan beberapa peternak menjual sapinya dan keluar dari usaha ini. Beberapa faktor eksternal yang memicu keluarnya peternak dari usaha sapi perah (terutama di Jawa Barat) adalah : (a) Tingginya bunga deposito menyebabkan sebagian dari mereka menjual ternak untuk didepositokan ke bank; (b) Harga daging sapi yang tinggi menyebabkan sebagian sapi perah dijual dalam bentuk sapi potong; (c) Berkembangnya usaha perojekan, menarik beberapa peternak muda menjual sapinya untuk membeli sepeda motor; dan (d) Fluktuasi harga beberapa komoditas hortikultura menarik beberapa peternak beralih ke usaha ini.

Penanganan dan Pemasaran Hasil

Sekitar 88 persen produksi susu yang berasal dari usaha peternak sapi perah rakyat anggota koperasi dipasarkan ke industri pengolahan susu melalui koperasi. Sebaliknya, dipasarkan ke industri pengolahan nasional (8%), diolah dalam bentuk susu pasteurisasi oleh koperasi primer (2%) dan dipasarkan langsung melalui lopper susu (1%) ke konsumen. Khusus susu afkir selain langsung ke konsumen ada juga yang digunakan bahan baku industri rumah tangga untuk pembuatan karamel., krupuk, dan dodol. Bagi peternak yang bukan anggota koperasi (jumlahnya relatif sedikit) pemasarannya dilakukan melalui lopper atau langsung oleh peternak ke konsumen.

Beberapa koperasi belum melakukan pengolahan. Hal tersebut dapat disebabkan beberapa hal, antara lain : (a) Belum tersedianya modal untuk pengadaan unit pengolahan; (b) Belum tercapainya skala usaha; (c) Keterbatasan konsumen; dan (d) Memberi kesempatan pada KUD lain. Krisis ekonomi diantisipasi oleh beberapa koperasi dengan meningkatkan penjualan susu olahan (pasteurisasi). Pengolahan tersebut sebenarnya masih dapat divariasikan lagi dalam bentuk yoghurt, keju, dan produk lainnya. Saat ini Dinas Peternakan Kabupaten Malang sedang mengsosialisasikan alat pembuat keju dengan kapasitas 30 kg/hari. Investasi yang dibutuhkan tiap unit pengolahan keju bernilai Rp. 25 juta, dan telah ada investor yang ingin membantu pengadaan alat tersebut. Meningkatnya daya beli konsumen yang diikuti dengan promosi untuk minum susu segar diharapkan mampu meningkatkan volume jual koperasi. Jika pangsa ini terus meningkat maka akan meningkatkan posisi tawar koperasi pada IPS serta meningkatkan nilai tambah yang diterima koperasi. Meningkatnya nilai tambah yang diterima koperasi diharapkan juga berimbas pada kenaikan harga susu di tingkat petani.

Implikasi Kebijaksanaan

Pengembangan usaha peternakan sapi perah dapat dibenahi melalui langkah-langkah sebagai berikut : (a) Program pemuliaan ternak untuk menghasilkan bibit sapi perah unggul dengan produktivitas tinggi; (b) Program penyediaan kredit murah (misalnya dengan bunga 12%/tahun); dan (c) Meningkatkan program penyuluhan tentang pemberian pakan yang seimbang dengan rasio yang ideal antara pakan hijauan dengan pakan konsentrat.

Disamping itu koperasi perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhan susu segar (pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yoghurt, keju, dan sebagainya). Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat tentang manfaat minum susu segar. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi makin menguatnya nilai kurs rupiah terhadap US dolar yang dapat mengakibatkan IPS kembali mengimpor sebagian besar dari bahan baku susunya dari luar negeri sehingga serapan susu segar dalam negeri menurun drastis.

7 responses to “Krisis Ekonomi dan Peternakan Sapi Perah

  1. informasinya sangat berguna, trima kasih…!

  2. salam..
    saat ini saya menjual CD cara berternak sapi potong yang benar, hanya dengan harga 50 ribu/CD (blm ongkos kirim). jika ada yang berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com. tersedia juga CD Agrokomplek lainnya di bid. PETERNAKAN, PERTANIAN, PERKEBUNAN, dan PERIKANAN. tinggal pilih yang sesuai dengan keinginan teman-teman. download katalog CDnya di http://tinyurl.com/cdbudidaya2

    terima kasih

  3. Terimakasih atas tulisan nya, tentang sapi perah, semoga bermanfaat dan untk selanjutnya kita bisa gabung untuk meningkatkan konsumsi susu masyarakat indonesia. Saya stafpengajar mata kliah Susu dan Penanganannya, Di Fak. Teknologi Pertanian Universitas Udayana Bali

  4. Saya staf pengajar mk. Susu dan Penanganan serta Teknologi Pengolahannya; Di Fak. Tek. Pertanian Universitas Udayana Jimbaran- Bali
    Trims

  5. krisis ekonomi sapi perah disebabkan impor susu perah semakin tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s