Pangalengan, Kota Resort

Tiga pilar industri yang ada di Pangalengan sekitar tahun 30-an terdiri dari tiga bidang, terdiri dari Perkebunan Teh  yang di prakarsai  K.A.R Bosscha, Peternakan yang dipelopori oleh kaum boer dari Afrika Selatan dan satu lagi yang kurang begitu dikenal adalah indsutri penginapan, perhotelan untuk istilah jaman sekarang. Tidak ada keterangan jelas siapa yang mempelopori industri ini.

Alam pangalengan yang indah, sejuk, terletak di pegunungan merupakan daya tarik tersediri pada masa itu, seiring dengan makin interest orang untuk berkunjung ke pangalengan, maka bermunculan lah berbagai penginapan atau bungalau sampai penginapan sekelas hotel.

Salah satu fakta menjamurnya bisnis penginapan di Pangalengan dapat dikutip dari catatan Tante Do dan Oom Huug Bosscha yang pernah tinggal di sekitar danau Cileunca : “Oom Huug en Tante Do zijn toen een bungalowbedrijf in Tjileuntja gestart. Ze hadden het idee: ‘Over drie jaar zijn we binnen, dan gaan we in Tjileuntja wonen en dan hebben we meteen wat te doen met het beheren van het bungalowpark’ . Het park lag op een idyllisch plekje, in de bergen bij het meer van Tjileuntja beneden in een kom. Iedere bungalow had een open haard want het was er ‘savonds wat kil. Ze begonnen met het bouwen van een grote bungalow voor zichzelf op een terrein van 3.000 m2, en vervolgens vier grote en drie kleine bungalows op een terrein van 7. 000 m2. Het geheel lag op een heuvel, met beneden het grote meer, en aan de overkant van het meer lag een wei waarop Hollandse  koeien graasden.” (Paman dan Bibi Hugh mendirikan bungalow ketika memulai usahanya di Tjileuntja. Mereka memiliki ide: “Dalam tiga tahun kami memiliki resor, maka kita tinggal di Tjileuntja dan kemudian kami segera tahu apa yang harus dilakukan dengan mengelola resor. Taman ini berada di tempat yang indah di pegunungan dekat Danau Tjileuntja bagai sebuah mangkuk pegunungan. Di setiap Bungalow masing-masing memiliki perapian untuk menghadapai malam yang dingin. Mereka mulai dengan membangun sebuah bungalow yang besar untuk dirinya sendiri di atas lahan seluas 3.000 m2, dan kemudian empat bungalow kecil, tiga diantaranya terletak di atas lahan seluas 7. 000 m2. Keseluruhannya berada di sebuah bukit di atas danau, dan di seberang danau ada sebuah padang di mana  Sapi merumput). Dalam catatan selanjutnya, tempat mereka menjadi tempat berkunjung bagi kerabat dan saudaranya, tempat tersebut menyerupai vila yang banyak kita temui di sekitar Puncak bogor.

Selain itu, para Administratur perkebunan teh juga menyediakan mes untuk tamu, rekan, kerabat atau mitra bisnisnya sebagai tempat tinggal selama berkunjung ke perkebunan tersebut. Mes yang di maksud berupa vila yang  menyuguhkan keindahan alam perkebunan yang sejuk dan indah. Beberapa mes yang masih tersisa dapat dilihat di wisma Malabar, Perkebunan Cukul, dan beberapa perkebunan teh lainnya.

Salah satu hotel yang terkenal di Pangalengan adalah Berghotel, waktu kecil penulis tinggal di sebuah kampung bernama Citere Hilir, di tempat itu ada suatu daerah yang disebut hotel, menurut cerita penduduk sekitar, dulu nya tempat itu adalah sebuah hotel milik Tuan De Bren. rupanya nama tersebut merupakan pelesetan dari pemilik Berghotel (hotel di pegunungan). Saat ini sisa dari hotel tersebut sudah dijadikan rumah penduduk. Identitas nomor kamar dari setiap kamar hotel tersebut masih bisa dikenali pada saat itu. Rupanya Tuan De Bren sangat serius dengan usahanya ini, terbukti beliau berani memasang sebuah iklan di koran harian “HET NIEUWS VAN DEN HAG” dengan content, “ze komen van dichtbij- ze komen van verre en allemaal komen ze op „ijitere.pengalengan hoogvlakte-berghotel tjitere- 1 uur rijden van bandoeng. moderne sport en badgelegenheden.” (mereka datang dari dekat-mereka datang dari jauh dan mereka semua datang ke “Tjitere”. Pengalengan-dataran tinggi  tjitere-1 jam perjalanan dari Bandung. dengan fasilitas olahraga modern dan kamar mandi)

Sisa-sisa fasilitas hotel masih ada sampai sekarang, solempad (zwembad=kolam renang), lapangan tenis usang dan beberapa bungalow yang telah menjadi rumah penduduk. Dokumentasi photo Tropenmuseum dapat menggambarkan kemegahan Berghotel kala itu.

Luchtopname van het Berghotel Tjitere op de Pengalengan hoogvlakte

One response to “Pangalengan, Kota Resort

  1. Wah, kira-kira alamat situs bungalow ini dimana ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s